Rabu, 02 Maret 2011

Ngompreng Di Cirebon

Sore itu cerah, lembayung merah menerebos gumpalan-gumpalan langit negeri para wali. Tak ada rasa kantuk di mataku, sejak dari tadi ketika aku meninggalkan kota kembang. Hanya penat, lelah, dan tentunya sangat gerah. Satu alasan yang membuatku terus tegak melangkah, yaitu satu tujuan. Tujuan awal kenapa aku ada disana....mau tahu apa??? Aku akan mengikuti pelatihan (dauroh). Sebut saja pelatihan “kamu tahu apa?” (gaya di Novel HP, ketika nyebut voldemort) :P
Awal aku menginjakakn kaki di negeri para wali ini tepat berada di terminal Cirebon, aku bersama dua teman sama-sama merupakan pengalaman pertama berada di cirebon. Sedangkan tempat yang akan kami tuju masih jauh. Menurut sms (petunjuk jalan) yang aku dapatkan dari panitia, kami harus naik angkot sebanyak tiga kali lagi dari tempat kami berada saat itu (terminal Cirebon).
Dari pada bingung tidak jelas, kami putuskan untuk shalat. Karena ketika kami sampai di Cirebon, waktu menunjukan sekitar jam 16 sore. Mengingat kami belum shalat dzuhur dan ashar.
Kami masuk terminal lebih dalam lagi, mencari mushala. Subhanallah...tidak pernah aku menemukan terminal yang serapih ini. Sangat nyaman, dan tidak hiruk-pikuk. Tak usah membandingkan dengan yang kulihat selama ini.... (kasi satu jempol untuk kota Cirebon)
Setalah kami shalat, ku baca lagi petunjuk jalan yang tersimpan di Inbox Handphone ku. Beberapa kali aku membaca pesan itu, tapi tetap tak berubah. Kita harus naik angkot sebanyak tiga kali lagi menuju tempat yang akan kita tuju( ya eya lahhh). Kami hafalkan alur perjalanan yang akan kami lalui.
Kami naik angkot pertama, dan beberapa kali meyakinkan pada sopir dimana kami akan berhenti, hingga sopir capek nyebut “iya....,iya....,iya....”.
Naik angkot kedua, kami kebingungan, serasa menjadi alien di planet yang baru kami singgahi...ora ngertiii, lupa kalau cirebon sudah beda bahasa dengan di bandung. Yoo wiss lah...bahasa formal yang kami gunakan (nggak pake “mah”,” teh”,”haturnuhun”).
Pada saat kami menaiki angkot yang ke-tiga kami bertemu dengan teman-teman dari Cirebon, pertemuan pertama dengan peserta pelatihan“kamu tahu apa?” dari mahasiswi IAIN syaikh NurDjati. Mungkin suatu keuntungan untuk kami, karena kami tidak usah repot-repot lagi nyari tempat dimana kami akan turun. Toh ternyata kita sudah punya petunjuk jalan.... dan akhirnya kami sampai di tujuan dengan sehat wal afiat...alhamdulillah. satu yang akan aku ungkap di sepanjang jalan yang aku lewati di kota cirebon adalah...jalanan yang sangat Indah! Tidak macet, rapi, bersih...suer, betah banget ngeliatnya. Tidak usah di bandingkan dengan jalan yang setiap hari aku lewati. (dua jempol untuk Cirebon)
Setelah mengikuti pelatihan“kamu tahu apa?” beberapa hari (lupa, asa lama pisan), kami sudah sangat akrab, terlalu banyak canda diantara kami, serasa banget menjadi orang Indonesia, berbeda-beda bahasa, berbeda-beda suku ( Bhineka tunggal Ika geto loh...). karena berbeda-beda kami menjadi mengenal. Perasaanku, aku menjadi seorang yang paling beruntung di pertemukan dengan orang-orang yang hebat seperti mereka.
Hari terakhir pelatihan“kamu tahu apa?” yang akan selalu kami ingat. Dimana kami di kumpulkan di depan gedung. Kami di bagi dua kelompok, kelompok pertama terdiri dari Belasan perempuan, dan kelompok kedua terdiri dari belasan laki-laki. ;P
Kami akan mendapatkan sebuah pengalaman yang spektakuler. Dimana kami harus pergi dari tempat pelatihan“kamu tahu apa?” , menuju IAIN syaikh Nur Djati. Jarak dari sana sekitar 20 KM. Dan kami hanya di bekali uang sebesar Rp 1000.-/orang, Teraserah akan kami gunakan untuk apa. Mau segelas minuman, atau naik angkot sepanjang 2 KM.... kami pun tidak di perbolehkan membawa Handphone.
Para peserta laki-laki merasa tidak yakin dengan kemampuan kami para wanita. Justru dengan ketidakyakinan mereka, kami merasa tertantang.
Kami kelompok pertama melangkah tegap di sisi jalan raya, sambil bernyanyi lagu penyemangat. Satu tujuan kami...sampai disana tanpa mengeluarkan uang sepeserpun. Setelah jalan beberapa menit, menikmati pemandangan indah industri batu alam, barulah kami mendapatkan kendaraan bak. Tapi sayang...hanya sampai beberapa kilometer saja, setelah itu kami jalan kaki kembali.
Saat haus mendera kami, tiba-tiba kelompok kedua yang terdiri dari peserta laki-laki lewat menaiki truk besar. Mereka mengepalkan tangan menyemangati kami yang lagi jalan kaki. Tapi kami justru mengacungkan jempol kebawah...(baru ngerasa jadi egois, saking siriknya).
Haus kami sudah mendominasi, ada salah satu peserta perempuan berjalan agak kencang, hampir berlari menuju salah satu rumah besar di pinggir jalan, memasuki pagarnya yang tinggi. Kami tercengang...ternyata eh ternyata itu adalah rumahnya. Walhasil kami makan-makan dan menghilangkan dahaga kami dengan berteguk-teguk air es.
Berhubung peserta yang punya rumah punya beberapa mobil dan beberapanya lagi adalah mobil bak, maka kamipun diantar sampai gerbang kampus IAIN sekitar jam 08.30. lebih tiga puluh menit dari ketentuan panitia. Tapi kami adalah kelompok yang lebih awal datang, karena kami melihat para peserta laki-laki masih di jalan menunggu mobil yang akan membawa mereka. Kasiannn........
Setelah usai acara, kami di ajak panitia untuk jalan-jalan ke kasepuhan. Kebetulan lagi rame karena beberapa hari lagi menjelang muludan. Hmmm...banyak banget pedagang!, pas masuk ke kasepuhannya, saya merasa tidak asing. perasaannya sama dengan musium geusan ulun sumedang. Ada kereta, ada gong, ada tombak, ada guci, yang membedakan adalah....adanya bunga-bunga bertebaran diamana-mana. 
Akhirnya kami pulang menjelang maghrib...dengan kesan yang sangat dalam dari pelatihan... “kamu tahu apa?”.
Haturnuhun semuanya...

Selasa, 08 Februari 2011

pergiii

adakalanya kita tak memiliki sebuah jawaban untuk menjawab segala tanya yang datang dengan tiba-tiba. tetapi jawaban itu datang ketika waktu sudah bergulir.
mungkin saat ini tanya-tanya hadir dengan cepatnya, hingga aku tak kuasa mencari jawab. menunggu pun serasa tak mampu. benar atau salah, bisa atau tidak.
hanya berharap semuanya akan baik-baik saja, hingga aku menemukan segala hikmah dari semua tanya.
"ini adalah jalanku!". beberapa kali aku aku berucap kalimat itu. berharap ia akan menjadi sebuah batu karang yang kuat di tengah lautan dasar hatiku.
sekarang, aku akan menempuh sebuah rintangan untuk mencari jawaban atas segala tanyaku.
meski aku merasa gentar, aku akan melawannya dengan sekuat tenagaku.
aku yakin aku sendiri yang akan menentukan. bukan mereka, dan tentunya bukan dia. hanya Allah dan aku yang tahu.
pengorbanan orang-orang terdekat terdekat untukku tidak boleh aku sia-siakan......sedikitpun....
aku kan pergiii...mencari jawaban,
aku akan pergiiii.....meski langkahku terasa begitu berat.
pergiii...izinkan aku pergi, agar semuanya baik-baik saja...

Jumat, 17 Desember 2010

Minggu ini aku tak pulang, bu...




Ku tekuk 45 derajat muka ku saat kau sambut aku di depan rumah.
Kau rengkuh aku dalam pelukan hangatmu.
Degup jantungmu mengatakan kau sangat peduli.
Kau usap pipiku, kau tatap mataku dengan lembut. Semuanya dengan diam.
Setelah kau membenarkan porsi makanku selama sehari. Kau keluarkan sepertiga isi dompet belanjamu, kau kepalkan dalam genggaman tanganku.
Lalu kau mencium keningku dengan lembut.
Aku pergi meninggalkanmu hari itu dengan senyum yang mengembang seperti biasanya.
Menjemput asa dan cita di dunia yang sebenarnya.
***
Ku tekuk 45 derajat muka ku satu minggu berikutnya.
Seperti biasa, kau sambut aku dalam dekapanmu.
Kau memasak masakan terhebat setiap aku datang, berharap aku berlama-lama di rumah.
Setelah aku gemuk kembali, kau kepalkan lembaran-lembaran itu di telapak tanganku, setelah aku menyadari salah satu perhiasanmu sudah raib dari pandanganku.
Walau merasa bersalah, aku pergi tersenyum lagi. Mengira-ngira apa yang akan aku dapatkan di luar sana.
***
Minggu depan aku tak pulang, bu...ada banyak tugas yang harus aku kerjakan.
Ada dunia yang harus aku geluti disini. Bukan aku tak peduli, tapi perhatianku pada kuliah lebih kuat mengalahkan rinduku.
***
Ibu, minggu ini juga aku tak bisa pulang.
Ada kegiatan yang membutuhkan tenagaku disini. Mungkin kau disana akan baik-baik saja bersama keluarga.
***
Aku lupa kalau hari ini seharusnya aku pulang bu, tapi mungkin minggu depannya lagi aku bisa pulang.
Lembaran yang kau beri untuk ku masih cukup. Semoga kau tidak bersusah payah dalam waktu yang cukup lama.
***
Ibu, ada yang aneh dengan kesehatanku. Aku di rawat teman-teman, penyakit lambungku semakin parah ternyata. Minggu ini aku tak bisa pulang dengan kondisi seperti ini. Walau berharap kau yang akan merawatku.
***
Kini aku dalam dekapmu lagi.. Kau sibuk merawatku...kulihat kantung matamu hitam.
Ibu, setua itukah dirimu saat ini... aku menyesal pulang dalam keadaan seperti ini, tak bisa membuatmu tersenyum.
Rindumu dapat ku baca saat ini, tapi selalu mudah kulupakan disana...

Sabtu, 07 Agustus 2010

Tentang Dia

Aku masih duduk di tempat yang sama, terdiam memikirkan alur kehidupan sebagian yang begitu rumit dan begitu indah. Ya indah...ketika ku masih duduk di sini mengerjakan apa yang aku cita-citakan dan kau datang lagi, dari kejauhan lambaian hangatmu membuat ku menglihkan apa yang sedang ku kerjakan,senyum lebarmu membuat bibir ini ikut melengkung ceria, yang asalnya kaku dan bisu, lalu kau duduk di sini “di sampingku” dengan mantap seperti biasanya.
Kau tanyakan kabarku... aku akan selalu menjawab “baik”, dari satu kata ini akan menjadi topik pembicaraan yang panjang oleh mu, begitu panjang, hingga jarum jam pun terasa meloncat dengan cepatnya.
Seolah tak pernah jemu kau terus berbicara padaku, guraumu membuat aku tersenyum lama dan kau akan membalas dengan gelak tawa lepasmu. Orang-orang yang melihat mengerutkan keningnya, mungkin di benak mereka bertanya-tanya “apa yang sedang di bicarakan mereka berdua? Ko heboh banget”.
Selalu saja ada bahan pembicaraanmu, bahan ejekanmu padaku. Semua itu yang tak pernah membuatku memalingkan pandangan padamu... kau adalah sosok yang sangat membuatku tertarik.
Tanpa aku meminta, kau akan datang ketika aku bersedih. tak pernah ku duga kau bisa membaca semua perasaan ku saat itu, kau menghiburku dengan “kata-kata lembut” milik mu, yang tak pernah ku temui lagi selain darimu, “kata-kata lembut” yang sama sekali berbeda dengan kata-kata lembut yang orang lain katakan. Tak selembut yang di bayangkan orang, tapi bagiku selembut kain sutra yang di selendangkan seorang ratu di singgasana. Tak seindah yang orang fikirkan, tapi bagiku indahnya bak bunga sakura yang sedang merekah, Semuanya adalah milik mu.
Saat waktumu habis untuk "duduk di sampingku", kau pun bilang: “aku harus pergi”. Rasa sesalku menggeliat dalam kepalaku, menyesal karena kau harus pergi, menyesal karena ada banyak waktu akan datang tanpamu. Tapi matamu seolah berbicara untuk meyakinkannku, kau akan kembali dan aku jangan khawatir. Aku tahu itu, meskipun kau tak pernah mengatakannya.
Saat ku "duduk" di tempat yang sama menunggumu walau aku tak pernah meminta kau datang, tapi aku berbicara pada diriku sendiri “aku sedang menunggumu”, walaupun kau tak pasti datang, walau kau tahu aku pasti "duduk" di sini. Berhari-hari aku tetap "duduk" di tempat yang sama, tempat dimana kau akan datang seperti biasanya.
Tapi fikirku jangan terlalu berharap, waktumu bukan hanya untukku. Memberikan sebagian waktumu untukku adalah sangat berarti bagiku, kamu adalah orang hebat yang mau "duduk di sampingku", berbagi denganku. kamu adalah orang yang luar biasa yang mau berbicara denganku dan hanya padaku. Tapi semua itu bagiku kau adalah mahkota raja yang di pasangkan di kepala ku, dan hanya padaku dari seluruh orang di wilayah kerajaan.
Dan kau datang seminggu kemudian, amarah bergejolak di dalam hati ketika ku tak sabar menunggumu seminggu terakhir kini sirna sudah, senyum lebarmu menghapus sirna semuanya. Seperti biasanya kau "duduk di sampingku” dengan mantap, berbicara banyak tentang aku, tentang kau, tentang cita-cita mu. Kau tak jemu, dan akupun tak pernah bosan memperhatikanmu berbicara. Aku rasa...hanya kau yang bicara, seisi dunia terasa hening.
Semua itu terjadi dua tahun terakhir, saat indah bersamamu.” Duduk” berdua, berbicara dan tertawa.
Yang sebelumnya ku hanya memandang mu di balik kaca jendela kelas saat bel istirahat berbunyi, ku bisa memperhatikan mu berbicara, saat kau berpidato di depan para siswa, ku menatapmu nanar saat kau pergi meninggalkan sekolah. Dan itu semua berlangsung selama lima tahun lamanya....
Cukup bahagia dengan hanya menulis tentang dirimu pada diari di tiap hari-hariku. Membacanya kembali...lalu menilai diriku sendiri dengan sebutan “orang bodoh”.
Tapi kau dengan mudahnya menangkap sinyal aneh dari ku, yang tak mudah ku tutupi. pipiku merona saat kau hanya bertanya saja. muka ku menunduk saat kau melirik wajahku sekilas saja.
Dan akhirnya kau “duduk di sampingku” saat ini.
Aku sangat senang ktika kau ada di sampingku, tapi sekali lagi, aku tak pernah mengungkapkannya padamu. Dan sekarang setelah ada yang mengatakan aku tak setara dengan mu, kau terlalu sempuna untuk ku, aku adalah orang yang mengganggu kehidupanmu. Bahkan ada yang mengatakan aku membuat kamu berdosa....
Semua itu tidak lah salah..... siapa kamu di mata orang lain, dan siapa aku di mata orang lain.
Kau adalah anak tershaleh yang di miliki keluargamu, kau hafal beberapa juz Al-quran, kau sering mengkaji kitab-kitab hadist, begitu juga siroh-siroh rasul, bahasa Arab mu lancar, budi pekertimu indah di lihat, kamu sangat ramah pada semua orang. ahhh...terlalu banyak lagi yang harus ku ungkapkan tentang kamu.
Lalu setelah itu aku bercermin pada diriku sendiri. Aku adalah anak ternakal di keluargaku, aku pemalas...aku terlalu cuek pada orang lain...dan banyak sekali kelemahanku.
maka, biarlah air tetap mengalir, dan api tetap membara dengan kesendiriannya.

Sepenggal di jalanan

19.00
Ku pandangi jendela bis yang melaju cepat. Memberikan warna-warna kehidupan yang beragam, memberikan arti bahagia dan sedih adalah kesatuan hidup yang tak pernah bisa menyatu dari makna sebenarnya. Jalanan sibuk, kapitalisme merajalela. Wajah-wajah amarah, wajah-wajah tak peduli, wajah-wajah lelah menghiasi setiap degup kehidupan ini berlngsung begitu lama.
Kuperhatiakan loncatan-loncatan pedagang asongan naik dan turun bis ekonomi yang berjejal, diiringi petikan gitar dan suara nyaring mendayu-dayu. Segala bebauan ada disini, semuanya bisa kita “nikmati” tidak lain milik bis ekonomi. Para pedagang pulang dari kota berjejal, tempat dagangan mereka yang kosong ataupun yang masih berisi ikut memenuhi ruang-ruang manusia.
Suara-suara yang memekakkan telinga, silih berganti. Sibuk, dan terburu.
“ leunyi, leunyi!” kernet yang satu.
“maja, bu? Maja?” dan kernet yang lainnya.
Aku tak penat melihat dan mengalami semua ini karena sudah terbiasa. Hiburan yang membuat ujung bibirku sedikit melengkung ke atas. Dengan langit memerah jingga, sayup-sayup suara adzan dari beberapa mesjid di jalan terdengar sekilas-sekilas. Hingga cakrawala berganti peran lagi. Mata ku terpejam, menikmati alunan irama mesin bis, dan jalan yang berkelok-kelok. Aku tidak lelah....

Rabu, 12 Mei 2010

cerpen lagi....


ini adalah cerpen yang keberapa kalinya aku buat, sebenarnya cerpen ini adalah cerpen yang ku ajukan untuk perlombaan di lembaga dakwah kampus saya. tapi ternyata tidak menang sama sekali,,,sempat kecewa sih, karena saya belum menerima kritikan jelek dari teman-teman saya yang baca cerpen ini, rata-rata bilang: " bagus, bagus,,,". siapa yang salah, entahlah....
jadi intinya, aku pengen tahu donk, sisi kelemahan dari cerpen ini dari kawan-kawan semua...biar aku bisa koreksi...


SISI LAIN AKTIFIS
19 Agustus 2009
Malam semakin hening, suara alam mendayu mengantar insan yang kelelahan terlelap di bawa angan lepas. Menjadikan gelap sebagai pelindung dari sepi yang bertepi. Berlindung dari dingin udara yang menusuk dengan selimut-selimut, merengkuh yang menghantar pada kenyamanan tidak abadi.
Tengah malam tepat, ketika sunyi semakin mencekam, mata terpejam di buai mimpi-mimpi. Suara itu, kembali terdengar lirih...sendu, menyekitkan, memecah keheningan. Membukakan mata ini sekaligus menjatuhkanku dari buai mimpi yang telah melambung tinggi. Sejenak ku terganggu. Walau terusik sedikit, ku pejam lagi, suara itu terkalahkan oleh rasa kantukku yang begitu berat. Suara itu masih terdengar samar...samar.... dan akhirnya lenyap, menghilang terhisap menembus pada lorong yang pekat tak berujung.
***
20 Agustus 2009
Pagi buta aku telah ada di kampus. Banyak agenda yang telah kususun waktu dan telah terpilih dari segi prioritasnya. Salah satu yang tereliminasi adalah kuliah ku. Ada kesempatan tidak kuliah selama dua kali saja. Untuk awal masuk kuliah, biasanya dosen dan mahasiswa sering bermalas-malasan.
Agenda pertama konsolidasi aksi dari jam enam pagi. Dilanjutkan dengan aksi hingga siang hari.
Aku dan perempuan yang lain mencorat-coret karton dengan spidol, berisikan coretan-coretan kekesalan yang telah meluap tak terbendung lagi. Keadilan sudah dimatikan di kampus ini. Seolah mahasiswa menjadi kambing congek! Fungsi mahasiswa disini tak lagi jadi Agent of change!
Semangat muda ku membara di kampus ini. Ingin sekali rasanya merebut peradaban gilang-gemilang yang pernah tercipta. Yang hanya jadi sejarah kenangan masa lalu.
Ku kenakan jas almamater, membuktikan rasa cinta ku pada kampus ini. Dengan erat ku kepalkan tangan, dan mengangkatnya tinggi-tinggi. teriakan-teriakan memekakkan telinga, saling cekcok hanya berargumen kebohongan-kebohongan yang membuat amarah semakin memerah.
Mentari yang gagah menjadi saksi, keringat-keringat, dan teriakan tak menbuat surut. Tak ada lelah untuk menyerah. Suara ku lantangkan lagi.
***
Kuhadapi bangunan sederhana, tempat dimana beberapa orang tinggal disini, termasuk aku bagiannya. Lampu ruangan depan sudah gelap. Pintunya rapat, terkunci. Kuketuk kaca jendela dengan lembut.
“Assalamuaklaikum....” Suaraku tertahan.
“Assalamualaikuuuuummm...”Ku ulangi lagi, masih dengan volume suara yang sama. Tapi di perpanjang.
Suara sandal yang terseret malas, terdengar di balik pintu, menjawab salam dengan singkat dan berat. Ia memutar kunci di balik pintu, dan membukanya. Bapak.
Aku masuk rumah, menghempaskan Ransel yang membebaniku bahuku dari berangkat hingga pulang di kamarku.
Bapak tidak bertanya apa-apa mengenai kuliahku dan aktivitasku di kampus, beliau sepertinya sudah tahu persis tentang apa yang terjadi denganku, setelah satu tahun kemarin lelah mengajukan berbagai pertanyaan. Begitupun aku, telah lelah untuk menjawab semuanya.
Ku teguk dua gelas air, mengganti energi yang telah lama hilang. Dahaga sirna sudah...
Tinggal tubuh ini meminta perhatianku, untuk mengistirahatkannya secara total. Cukup delapan jam saja.
Bergegas aku shalat, lalu aku terlelap dengan asa dan mimpi-mimpi di balut selimut rindu... rindu pada sesuatu yang entah apa...
Rindu yang menyesakkan dada. Rindu pada sesuatu yang telah aku lupakan. Kedamaian itu... kapan aku bertemu dengannya lagi? Tapi suara hatiku yang berbicara bukan diri ini. Maka aku sendiri tak pernah menggubrisnya.
***
Aku tersentak kaget, keringat bercucuran di dahiku. Aku kira aku terbangun dari mimpi buruk, yang sangat buruk. Aku meludah ke arah kiri, lalu ku berdoa, jangan pernah terjadi. Tapi suara lirih yang ada di mimpikuku menjadi nyata, terasa jelas diantara sayup dinginnya malam. Sambil menyeka keringatku, kulihat ke arah jam handphone yang ada di sisiku. Tengah malam.
Suara lirih itu membuatku memandang langit-langit kamar yang sudah abu-abu. Suara kesakitan itu. ku cengkram erat-erat selimutku lalu menyingkapkannya. Ku seret langkah ini...ku arahkan tubuhku ke ruang tengah rumah... lalu aku duduk di kursinya, dan meneguk sisa air kemarin. Aku terdiam diantara suara lirih itu.
***
21 Agustus 2009
Pagi buta, dengan perjalan sekitar 26 kilo meter menuju kampus. Ada aksi lanjutan, ini adalah agenda penting setelah kemarin memanas-manasi telinga para pejabat. Sekarang adalah gebrakan, yang harus di tanggapi pihak Rektorat atas kasus ini.
Seperti biasa, mentari menemani langkah kita untuk menyuarakan keadilan di kampus kita tercinta, cakrawala biru tak bertepi melapangkan hati kita. Lebih spektakuler dari kemarin, aksi kita di ikuti tambahan peserta yang cukup banyak. Dan lebih menarik lagi, aksi kita kemarin memancing organisasi lain ikut aksi hari ini, merekapun menyadari ketidak beresan pejabat kampus.
“Revolusiiii...revolusi sampai mati!”
Ya, perubahan total yang kami harapkan, perjuangan untuk mengembalikan hak-hak mahasiswa yang terabaikan. Bukan hanya kuliah, nilai yang memuaskan, sehingga cepat-cepat mendapat gelar. Tetapi sekali lagi sebagai agent of change!
Aksi yang sungguh menarik, terlama, dan sambung-menyambung. Dari pagi hingga sore hari. Hanya satu yang kita tunggu, tanggapan dari pihak Rektorat. Tapi mereka tak memunculkan batang hidungnyapun.
Hari ini, tidak sia-sia, walau telah aksi selama tujuh jam, dan tidak di tanggapi oleh pihak rektorat. maka besok lanjutkan lagi. Dan harus sampai bertemu dengan pihak rektorat.
***
Seperti biasa suasana semakin gelap ketika ku pijak rumah orangtua ku. Kali ini aku di sambut tatapan sinis kakakku yang kebetualan sedang ada di rumah. Tak kuhiraukan.
Terlalu banyak percekcokan sebelumnya. Dan aku lelah menanggapinya, lebih persisnya...aku kalah dengan argumen-argumennya untuk memarahiku. Maka lebih baik aku diam, biar dia terlebih dahulu berbicara.
Ku pura-pura menyiapkan air hangat untuk membuat air susu coklat. Tapi dia tetap diam. Maka aku mengambil kesimpulan, bahwa dia sudah lelah juga menghadapiku, bukan sebaliknya, aku tak seharusnya lelah menerima ceramah gratis darinya.
Akhirnya aku masuk kamarku, dan malam ini aku akan terlelap, tanpa ada gangguan lagi.
***
22 Agustus 2009
“Kawan, kita tunggu dirimu di pinggir kampus.” Kubaca pesan singkat itu sekilas, tak banyak tanya lagi aku segera bergegas merapih kan diri untuk berangkat ke kampus walau hari ini adalah hari sabtu.
Agenda urgen, yang tak mungkin aku tinggalkan. Rapat. Ya, kita semestinya menyusun aksi lanjutan lagi, dan harus lebih heboh dari yang telah kita lakukan.
“Kita memerlukan pamflet yang akan membuat telinga para pejabat lebih memerah lagi, sekaligus mengajak mahasiswa lain menyadari dan berpartisipasi langsung.” Dengan lantang suara ketua koordinator Aksi membahana di ruangan rapat.
“ Saya tugaskan ke Emi!” katanya sambil menunjuk diriku.
Setalah dari itu, aku menyibukan diri di depan komputer di basecamp khusus untuk merancang strategi dari isu kampus saat ini, di temani teman-teman yang ikut menyerukan ide-idenya.
***
Malam ini, jeritan dan suara kesakitan itu datang masih awal. Sekitar jam sembilan malam, ketika pipiku belum sama sekali menempel pada tempat tidur. Aku hanya terdiam di antara sunyi ruanganku, kamar paling ujung di rumah orangtuaku. Menguncinya rapat-rapat. Karena aku takut, takut dengan ketidakberdayaanku menghadapinya.
***
23 Agustus 2009
Ketika aku menginjakakan kaki di gerbang kampus sekitar jam tujuh pagi, di hari minggu, karena tak ada hari libur bagiku. Banyak mahsiswa yang berjalan-jalan di area kampus.
Ku langkahkan kaki semakin bersemangat, aku puas dengan dinding-dinding suram itu yang telah diisikan pamflet yang ku buat kemarin bersama kawan-kawan seperjuanganku. Sungguh, dinding yang berbicara.
Kulihat disana, disana, dan disana... hmmm...bagus sekali...
Seketika itu ada segerombolan orang memperhatikanku, entah apa yang mereka lihat. Tatapan mereka sungguh tajam, menikam. Di tambahkan dengan ekspresi sinis yang terlalu mudah dibaca oleh mataku, walau sekilas.
Aku tak gentar. Jelas, mereka adalah orang-orang itu.
***
Sore hari ketika aku berjalan pulang sendiri setelah agenda-agenda organisasi ku bereskan. Melewati jalan raya, menuju halte bis kota yang akan ku tumpangi. Tapi tiba-tiba...
“Bruuukkk!” Sesuatu membantingku dari belakang.
Tubuhku hampir jatuh terjungkal, tapi aku bisa menyeimbangkannya. ternyata sebuah motor telah menabrakku, dengan secepat kilat motor itu melaju cepat. Tak kulihat dua wajah yang tertutup helm itu. Tubuh bagian kanan terasa ngilu. Dan anehnya tak ada yang memperhatikan kejadian ini satu orangpun.
***
Lebam-lebam, itu sudah pasti. Dan tak tahu apakah ada masalah yang terjadi dengan tulangku, sehingga sangat terasa kaku. Ku rasakan sendiri nyeri yang sangat menyakitkan. Menahannya berusaha menghilangkannya, tapi tak mampu bila hanya di diamkan saja. Tapi jangankan untuk di obati, untuk di bicarakan saja aku tak mampu.
Bersama lirihan suara yang setiap malam hadir, sakitku semakin menjadi. Lalu tangisku pecah. Semakin aku tak bisa berbuat apa-apa kepada “lirihan itu” yang samakin awal kudengar.
***
24 Agustus 2009
Siang itu di kampus di lakukan aksi lagi, dua organisasi bersatu. Di mulai dengan mengajak para mahsiswa baru untuk berpartisipasi. Tanpa dugaan kita, ternyata organisasi yang mendukung pejabat kampus juga melakukan aksi.
Dadaku berdegup, punggung kananku semakin terasa ngilu, tangan kananku kaku. Firasatku bergerak cepat, mengajak tubuh ini untuk mundur dari kerumunan aksi. Tapi ada lagi yang berkata “tidak” padaku. Kakiku terasa menancap pada tanah, kebenaran tidak bisa di bawa mundur...
Mereka semakin dekat dan anarkis, walau masa kami jauh lebih banyak, tapi sepertinya aksi mereka di buat untuk kekacawan. Mereka bersumpah serapah yang menghujani kami.
Dekat, dekat dan semakin dekat, ternyata di kerumunan masa kami ada yang memungut batu dan melemparkannya pada lawan kami, entah siapa, yang jelas itu pasti oknum.
Tidak bisa di elakkan lagi, mungkin ini adalah rencana mereka. Mereka langsung melempari kita dengan batu, sengat ganas sekali. Kulihat satu orang korban yang terkena lemparan batu itu, sikut yang ia gunakan untuk melindungi wajahnya sobek.
Bumi yang kupijak terasa berputar dan bergemuruh hebat. Seseorang menyeretku dengan paksa. Kulihat lagi wajah lelaki yang berlumuran darah hingga berceceran pada jas almamaternya.
Suara pekikan dan jeritan terus bersahutan, batu-batu berterbangan tak beraturan di atas kepala.
Kepalaku semakin berat, bumi yang kuliahat semakin berputar, kaki yang ku seret terasa banyak rintangan yang menghalangi. Tangan kananku yang di seret seseorang semakin tak karuan.
Lalu semua menjadi pekat, membentuk sebuah pusara yang berputar kencang. Gemuruh menghilang, dan suara berdebam terakhir yang kudengar.
***
Kubuka mataku pelan-pelan yang terlihat adalah suram, mataku masih tidak normal. Ku pejamkan lagi lalu membukanya, sahabatku sedang ada di sisiku, wajahnya sayu penuh dengan bekas tangisan. Maka terasa semua sakit yang ada ditubuhku, tidak hanya tubuh bagian kanan, semunya terasa remuk, hingga ke ujung kaki.
Sahabatku terdiam, akupun tak bisa berkata-kata. Masih jelas tergambar kejadian itu di kepalaku. Terlalu sedih bila di tangisi. Mungkin banyak teman-teman ku sedang di rumahsakit, dan mengalami luka yang sangat parah.
Biarlah aku dirawat hanya dikosan sahabatku saja. Walua aku tahu aku sempat terinjak-injak masa.
***
25 Agustus 2009
Pagi ketika aku menginjakkan kaki di depan rumah orangtuaku, sehari setelah kejadian itu. Mungkin orangtuaku sudah tahu berita tentang kejadian di kampus kemarin. Tapi tak ada satu orang pun ada didalamnya. Kutanyakan pada tetangga.
Dengan merasa aneh tetanggaku menjawab. “Bukanya Ibu sedang di rawat di rumah sakit Nenk? Ari enenk Emi kemana aja atuh.. emang nggak di kasih tahu ya?”
Ku balas dengan senyuman. “Rumah sakit mana ya bu?.”
“Rumah sakit umum, katanya yang biasa Ibu kontrol.”
“Makasih...bu...”
Dengan lemah, ku arahkan tubuhku ke jalan raya kembali. Menyetop angkot yang akan membawaku kerumah sakit umum, tempat Ibuku di rawat.
Alasan keluargaku tidak memberi tahuku kejadian-kejadin di rumah sudah biasa aku dapatkan. Tapi bila tentang Ibu dirawat adalah sangat keterlaluan. Walau aku merasa semuanya memang salahku.
***
Aku terdiam di lorong rumahsakit, di depan ruangan tempat Ibuku di rawat. Keluargaku tak memberikan sedikit sapaanpun padaku. Aku faham.
Ternyata sakit hati itu sangat menyakitkan di bandingkan rasa sakit tubuhku oleh injakan-injakan saat kejadian kemarin. Bahkan itu di perlakukan oleh keluargaku.
Hingga akhirnya ibuku menghembuskan nafas terakhirnya. Sesalku tak terbendung lagi. Selama tiga tahun aku menghabiskan masa SMA ku di tempat yang jauh darinya, dan dua tahun terakhir aku tak pernah meluangkan waktu untuknya. Siangku untuk kampus, malamku untuk diriku, sangat jarang aku bertemu dengannya, walau satu rumah. Sudah lupa aku pada senyuman manisnya, sudah lupa aku pada peluknya yang begitu hangat, setelah penyakit struke menimpanya.
Yang aku ingat adalah lirihan sendu yang menyakitkan ketika penyakit itu datang menemuinya dimalam-malam itu. Dimana aku hanya terdiam dan tidak mengobatinya.

Sabtu, 08 Mei 2010

kekuatan


hidup adalah perjalanan, hanya perjalanan yang cukup singkat, dan kehidupan adalah sarana pengumpulan pahala untuk kehidupan yang kekal.
maka perjalanan adalah sebuah roda, berputar dari atas ke bawah, begitupun sebaliknya dari bawah ke atas. itu semua adalah kehidupan, selalu ada perubahan yang signifikan.
perjalan juga berarti sebuah proses, proses pendewasaan.
bila kita sekarang ada di atas, maka syukurilah apa yang telah ada. bila pun sedang berada di bawah, maka ingatlah bahwa itu adalah sebagai pengasah mental kita. ingat, dengan firman Allah, sesungguhnya Allah tidak membebankan kecuali sesuai dengan kemampuan kita. maka yakinlah dengan diri kita, bahwa kita bisa menghadapi serumit apapun masalah yang terjadi pada diri kita.
masalah-masalah yang kerap membuat kita merasa kecil dan kerdil. di tambah dengan keluh seakan kekuatan bukanlah milik kita.
tapi sadarilah, hitung masalah yang sedang kita hadapi. seberapa banyak masalah yang kita miliki dengan jumlah yang tidak bermasalah. kita masih punya beberapa yang tidak bermasalah. itu adalah kekuatan kita.
yang terpenting adalah ada Allah bersma kita, Dialah Maha pemberi kekuatan.

kenapa aku menulis demikian?karena aku yakin atas kekuatan yang aku miliki. walaupun hanya beberapa, itu adalah kekuatan. dengan kekuatan yang separuh itulah aku bisa melawan masalah.
yang pasti dengan yakin bahwa Allah akn menolong kita.
sahabat, yakinlah atas pertolongan Allah.