Sore itu cerah, lembayung merah menerebos gumpalan-gumpalan langit negeri para wali. Tak ada rasa kantuk di mataku, sejak dari tadi ketika aku meninggalkan kota kembang. Hanya penat, lelah, dan tentunya sangat gerah. Satu alasan yang membuatku terus tegak melangkah, yaitu satu tujuan. Tujuan awal kenapa aku ada disana....mau tahu apa??? Aku akan mengikuti pelatihan (dauroh). Sebut saja pelatihan “kamu tahu apa?” (gaya di Novel HP, ketika nyebut voldemort) :P
Awal aku menginjakakn kaki di negeri para wali ini tepat berada di terminal Cirebon, aku bersama dua teman sama-sama merupakan pengalaman pertama berada di cirebon. Sedangkan tempat yang akan kami tuju masih jauh. Menurut sms (petunjuk jalan) yang aku dapatkan dari panitia, kami harus naik angkot sebanyak tiga kali lagi dari tempat kami berada saat itu (terminal Cirebon).
Dari pada bingung tidak jelas, kami putuskan untuk shalat. Karena ketika kami sampai di Cirebon, waktu menunjukan sekitar jam 16 sore. Mengingat kami belum shalat dzuhur dan ashar.
Kami masuk terminal lebih dalam lagi, mencari mushala. Subhanallah...tidak pernah aku menemukan terminal yang serapih ini. Sangat nyaman, dan tidak hiruk-pikuk. Tak usah membandingkan dengan yang kulihat selama ini.... (kasi satu jempol untuk kota Cirebon)
Setalah kami shalat, ku baca lagi petunjuk jalan yang tersimpan di Inbox Handphone ku. Beberapa kali aku membaca pesan itu, tapi tetap tak berubah. Kita harus naik angkot sebanyak tiga kali lagi menuju tempat yang akan kita tuju( ya eya lahhh). Kami hafalkan alur perjalanan yang akan kami lalui.
Kami naik angkot pertama, dan beberapa kali meyakinkan pada sopir dimana kami akan berhenti, hingga sopir capek nyebut “iya....,iya....,iya....”.
Naik angkot kedua, kami kebingungan, serasa menjadi alien di planet yang baru kami singgahi...ora ngertiii, lupa kalau cirebon sudah beda bahasa dengan di bandung. Yoo wiss lah...bahasa formal yang kami gunakan (nggak pake “mah”,” teh”,”haturnuhun”).
Pada saat kami menaiki angkot yang ke-tiga kami bertemu dengan teman-teman dari Cirebon, pertemuan pertama dengan peserta pelatihan“kamu tahu apa?” dari mahasiswi IAIN syaikh NurDjati. Mungkin suatu keuntungan untuk kami, karena kami tidak usah repot-repot lagi nyari tempat dimana kami akan turun. Toh ternyata kita sudah punya petunjuk jalan.... dan akhirnya kami sampai di tujuan dengan sehat wal afiat...alhamdulillah. satu yang akan aku ungkap di sepanjang jalan yang aku lewati di kota cirebon adalah...jalanan yang sangat Indah! Tidak macet, rapi, bersih...suer, betah banget ngeliatnya. Tidak usah di bandingkan dengan jalan yang setiap hari aku lewati. (dua jempol untuk Cirebon)
Setelah mengikuti pelatihan“kamu tahu apa?” beberapa hari (lupa, asa lama pisan), kami sudah sangat akrab, terlalu banyak canda diantara kami, serasa banget menjadi orang Indonesia, berbeda-beda bahasa, berbeda-beda suku ( Bhineka tunggal Ika geto loh...). karena berbeda-beda kami menjadi mengenal. Perasaanku, aku menjadi seorang yang paling beruntung di pertemukan dengan orang-orang yang hebat seperti mereka.
Hari terakhir pelatihan“kamu tahu apa?” yang akan selalu kami ingat. Dimana kami di kumpulkan di depan gedung. Kami di bagi dua kelompok, kelompok pertama terdiri dari Belasan perempuan, dan kelompok kedua terdiri dari belasan laki-laki. ;P
Kami akan mendapatkan sebuah pengalaman yang spektakuler. Dimana kami harus pergi dari tempat pelatihan“kamu tahu apa?” , menuju IAIN syaikh Nur Djati. Jarak dari sana sekitar 20 KM. Dan kami hanya di bekali uang sebesar Rp 1000.-/orang, Teraserah akan kami gunakan untuk apa. Mau segelas minuman, atau naik angkot sepanjang 2 KM.... kami pun tidak di perbolehkan membawa Handphone.
Para peserta laki-laki merasa tidak yakin dengan kemampuan kami para wanita. Justru dengan ketidakyakinan mereka, kami merasa tertantang.
Kami kelompok pertama melangkah tegap di sisi jalan raya, sambil bernyanyi lagu penyemangat. Satu tujuan kami...sampai disana tanpa mengeluarkan uang sepeserpun. Setelah jalan beberapa menit, menikmati pemandangan indah industri batu alam, barulah kami mendapatkan kendaraan bak. Tapi sayang...hanya sampai beberapa kilometer saja, setelah itu kami jalan kaki kembali.
Saat haus mendera kami, tiba-tiba kelompok kedua yang terdiri dari peserta laki-laki lewat menaiki truk besar. Mereka mengepalkan tangan menyemangati kami yang lagi jalan kaki. Tapi kami justru mengacungkan jempol kebawah...(baru ngerasa jadi egois, saking siriknya).
Haus kami sudah mendominasi, ada salah satu peserta perempuan berjalan agak kencang, hampir berlari menuju salah satu rumah besar di pinggir jalan, memasuki pagarnya yang tinggi. Kami tercengang...ternyata eh ternyata itu adalah rumahnya. Walhasil kami makan-makan dan menghilangkan dahaga kami dengan berteguk-teguk air es.
Berhubung peserta yang punya rumah punya beberapa mobil dan beberapanya lagi adalah mobil bak, maka kamipun diantar sampai gerbang kampus IAIN sekitar jam 08.30. lebih tiga puluh menit dari ketentuan panitia. Tapi kami adalah kelompok yang lebih awal datang, karena kami melihat para peserta laki-laki masih di jalan menunggu mobil yang akan membawa mereka. Kasiannn........
Setelah usai acara, kami di ajak panitia untuk jalan-jalan ke kasepuhan. Kebetulan lagi rame karena beberapa hari lagi menjelang muludan. Hmmm...banyak banget pedagang!, pas masuk ke kasepuhannya, saya merasa tidak asing. perasaannya sama dengan musium geusan ulun sumedang. Ada kereta, ada gong, ada tombak, ada guci, yang membedakan adalah....adanya bunga-bunga bertebaran diamana-mana.
Akhirnya kami pulang menjelang maghrib...dengan kesan yang sangat dalam dari pelatihan... “kamu tahu apa?”.
Haturnuhun semuanya...
Tampilkan postingan dengan label tentang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tentang. Tampilkan semua postingan
Rabu, 02 Maret 2011
Selasa, 08 Februari 2011
pergiii
adakalanya kita tak memiliki sebuah jawaban untuk menjawab segala tanya yang datang dengan tiba-tiba. tetapi jawaban itu datang ketika waktu sudah bergulir.
mungkin saat ini tanya-tanya hadir dengan cepatnya, hingga aku tak kuasa mencari jawab. menunggu pun serasa tak mampu. benar atau salah, bisa atau tidak.
hanya berharap semuanya akan baik-baik saja, hingga aku menemukan segala hikmah dari semua tanya.
"ini adalah jalanku!". beberapa kali aku aku berucap kalimat itu. berharap ia akan menjadi sebuah batu karang yang kuat di tengah lautan dasar hatiku.
sekarang, aku akan menempuh sebuah rintangan untuk mencari jawaban atas segala tanyaku.
meski aku merasa gentar, aku akan melawannya dengan sekuat tenagaku.
aku yakin aku sendiri yang akan menentukan. bukan mereka, dan tentunya bukan dia. hanya Allah dan aku yang tahu.
pengorbanan orang-orang terdekat terdekat untukku tidak boleh aku sia-siakan......sedikitpun....
aku kan pergiii...mencari jawaban,
aku akan pergiiii.....meski langkahku terasa begitu berat.
pergiii...izinkan aku pergi, agar semuanya baik-baik saja...
mungkin saat ini tanya-tanya hadir dengan cepatnya, hingga aku tak kuasa mencari jawab. menunggu pun serasa tak mampu. benar atau salah, bisa atau tidak.
hanya berharap semuanya akan baik-baik saja, hingga aku menemukan segala hikmah dari semua tanya.
"ini adalah jalanku!". beberapa kali aku aku berucap kalimat itu. berharap ia akan menjadi sebuah batu karang yang kuat di tengah lautan dasar hatiku.
sekarang, aku akan menempuh sebuah rintangan untuk mencari jawaban atas segala tanyaku.
meski aku merasa gentar, aku akan melawannya dengan sekuat tenagaku.
aku yakin aku sendiri yang akan menentukan. bukan mereka, dan tentunya bukan dia. hanya Allah dan aku yang tahu.
pengorbanan orang-orang terdekat terdekat untukku tidak boleh aku sia-siakan......sedikitpun....
aku kan pergiii...mencari jawaban,
aku akan pergiiii.....meski langkahku terasa begitu berat.
pergiii...izinkan aku pergi, agar semuanya baik-baik saja...
Sabtu, 07 Agustus 2010
Tentang Dia
Aku masih duduk di tempat yang sama, terdiam memikirkan alur kehidupan sebagian yang begitu rumit dan begitu indah. Ya indah...ketika ku masih duduk di sini mengerjakan apa yang aku cita-citakan dan kau datang lagi, dari kejauhan lambaian hangatmu membuat ku menglihkan apa yang sedang ku kerjakan,senyum lebarmu membuat bibir ini ikut melengkung ceria, yang asalnya kaku dan bisu, lalu kau duduk di sini “di sampingku” dengan mantap seperti biasanya.
Kau tanyakan kabarku... aku akan selalu menjawab “baik”, dari satu kata ini akan menjadi topik pembicaraan yang panjang oleh mu, begitu panjang, hingga jarum jam pun terasa meloncat dengan cepatnya.
Seolah tak pernah jemu kau terus berbicara padaku, guraumu membuat aku tersenyum lama dan kau akan membalas dengan gelak tawa lepasmu. Orang-orang yang melihat mengerutkan keningnya, mungkin di benak mereka bertanya-tanya “apa yang sedang di bicarakan mereka berdua? Ko heboh banget”.
Selalu saja ada bahan pembicaraanmu, bahan ejekanmu padaku. Semua itu yang tak pernah membuatku memalingkan pandangan padamu... kau adalah sosok yang sangat membuatku tertarik.
Tanpa aku meminta, kau akan datang ketika aku bersedih. tak pernah ku duga kau bisa membaca semua perasaan ku saat itu, kau menghiburku dengan “kata-kata lembut” milik mu, yang tak pernah ku temui lagi selain darimu, “kata-kata lembut” yang sama sekali berbeda dengan kata-kata lembut yang orang lain katakan. Tak selembut yang di bayangkan orang, tapi bagiku selembut kain sutra yang di selendangkan seorang ratu di singgasana. Tak seindah yang orang fikirkan, tapi bagiku indahnya bak bunga sakura yang sedang merekah, Semuanya adalah milik mu.
Saat waktumu habis untuk "duduk di sampingku", kau pun bilang: “aku harus pergi”. Rasa sesalku menggeliat dalam kepalaku, menyesal karena kau harus pergi, menyesal karena ada banyak waktu akan datang tanpamu. Tapi matamu seolah berbicara untuk meyakinkannku, kau akan kembali dan aku jangan khawatir. Aku tahu itu, meskipun kau tak pernah mengatakannya.
Saat ku "duduk" di tempat yang sama menunggumu walau aku tak pernah meminta kau datang, tapi aku berbicara pada diriku sendiri “aku sedang menunggumu”, walaupun kau tak pasti datang, walau kau tahu aku pasti "duduk" di sini. Berhari-hari aku tetap "duduk" di tempat yang sama, tempat dimana kau akan datang seperti biasanya.
Tapi fikirku jangan terlalu berharap, waktumu bukan hanya untukku. Memberikan sebagian waktumu untukku adalah sangat berarti bagiku, kamu adalah orang hebat yang mau "duduk di sampingku", berbagi denganku. kamu adalah orang yang luar biasa yang mau berbicara denganku dan hanya padaku. Tapi semua itu bagiku kau adalah mahkota raja yang di pasangkan di kepala ku, dan hanya padaku dari seluruh orang di wilayah kerajaan.
Dan kau datang seminggu kemudian, amarah bergejolak di dalam hati ketika ku tak sabar menunggumu seminggu terakhir kini sirna sudah, senyum lebarmu menghapus sirna semuanya. Seperti biasanya kau "duduk di sampingku” dengan mantap, berbicara banyak tentang aku, tentang kau, tentang cita-cita mu. Kau tak jemu, dan akupun tak pernah bosan memperhatikanmu berbicara. Aku rasa...hanya kau yang bicara, seisi dunia terasa hening.
Semua itu terjadi dua tahun terakhir, saat indah bersamamu.” Duduk” berdua, berbicara dan tertawa.
Yang sebelumnya ku hanya memandang mu di balik kaca jendela kelas saat bel istirahat berbunyi, ku bisa memperhatikan mu berbicara, saat kau berpidato di depan para siswa, ku menatapmu nanar saat kau pergi meninggalkan sekolah. Dan itu semua berlangsung selama lima tahun lamanya....
Cukup bahagia dengan hanya menulis tentang dirimu pada diari di tiap hari-hariku. Membacanya kembali...lalu menilai diriku sendiri dengan sebutan “orang bodoh”.
Tapi kau dengan mudahnya menangkap sinyal aneh dari ku, yang tak mudah ku tutupi. pipiku merona saat kau hanya bertanya saja. muka ku menunduk saat kau melirik wajahku sekilas saja.
Dan akhirnya kau “duduk di sampingku” saat ini.
Aku sangat senang ktika kau ada di sampingku, tapi sekali lagi, aku tak pernah mengungkapkannya padamu. Dan sekarang setelah ada yang mengatakan aku tak setara dengan mu, kau terlalu sempuna untuk ku, aku adalah orang yang mengganggu kehidupanmu. Bahkan ada yang mengatakan aku membuat kamu berdosa....
Semua itu tidak lah salah..... siapa kamu di mata orang lain, dan siapa aku di mata orang lain.
Kau adalah anak tershaleh yang di miliki keluargamu, kau hafal beberapa juz Al-quran, kau sering mengkaji kitab-kitab hadist, begitu juga siroh-siroh rasul, bahasa Arab mu lancar, budi pekertimu indah di lihat, kamu sangat ramah pada semua orang. ahhh...terlalu banyak lagi yang harus ku ungkapkan tentang kamu.
Lalu setelah itu aku bercermin pada diriku sendiri. Aku adalah anak ternakal di keluargaku, aku pemalas...aku terlalu cuek pada orang lain...dan banyak sekali kelemahanku.
maka, biarlah air tetap mengalir, dan api tetap membara dengan kesendiriannya.
Kau tanyakan kabarku... aku akan selalu menjawab “baik”, dari satu kata ini akan menjadi topik pembicaraan yang panjang oleh mu, begitu panjang, hingga jarum jam pun terasa meloncat dengan cepatnya.
Seolah tak pernah jemu kau terus berbicara padaku, guraumu membuat aku tersenyum lama dan kau akan membalas dengan gelak tawa lepasmu. Orang-orang yang melihat mengerutkan keningnya, mungkin di benak mereka bertanya-tanya “apa yang sedang di bicarakan mereka berdua? Ko heboh banget”.
Selalu saja ada bahan pembicaraanmu, bahan ejekanmu padaku. Semua itu yang tak pernah membuatku memalingkan pandangan padamu... kau adalah sosok yang sangat membuatku tertarik.
Tanpa aku meminta, kau akan datang ketika aku bersedih. tak pernah ku duga kau bisa membaca semua perasaan ku saat itu, kau menghiburku dengan “kata-kata lembut” milik mu, yang tak pernah ku temui lagi selain darimu, “kata-kata lembut” yang sama sekali berbeda dengan kata-kata lembut yang orang lain katakan. Tak selembut yang di bayangkan orang, tapi bagiku selembut kain sutra yang di selendangkan seorang ratu di singgasana. Tak seindah yang orang fikirkan, tapi bagiku indahnya bak bunga sakura yang sedang merekah, Semuanya adalah milik mu.
Saat waktumu habis untuk "duduk di sampingku", kau pun bilang: “aku harus pergi”. Rasa sesalku menggeliat dalam kepalaku, menyesal karena kau harus pergi, menyesal karena ada banyak waktu akan datang tanpamu. Tapi matamu seolah berbicara untuk meyakinkannku, kau akan kembali dan aku jangan khawatir. Aku tahu itu, meskipun kau tak pernah mengatakannya.
Saat ku "duduk" di tempat yang sama menunggumu walau aku tak pernah meminta kau datang, tapi aku berbicara pada diriku sendiri “aku sedang menunggumu”, walaupun kau tak pasti datang, walau kau tahu aku pasti "duduk" di sini. Berhari-hari aku tetap "duduk" di tempat yang sama, tempat dimana kau akan datang seperti biasanya.
Tapi fikirku jangan terlalu berharap, waktumu bukan hanya untukku. Memberikan sebagian waktumu untukku adalah sangat berarti bagiku, kamu adalah orang hebat yang mau "duduk di sampingku", berbagi denganku. kamu adalah orang yang luar biasa yang mau berbicara denganku dan hanya padaku. Tapi semua itu bagiku kau adalah mahkota raja yang di pasangkan di kepala ku, dan hanya padaku dari seluruh orang di wilayah kerajaan.
Dan kau datang seminggu kemudian, amarah bergejolak di dalam hati ketika ku tak sabar menunggumu seminggu terakhir kini sirna sudah, senyum lebarmu menghapus sirna semuanya. Seperti biasanya kau "duduk di sampingku” dengan mantap, berbicara banyak tentang aku, tentang kau, tentang cita-cita mu. Kau tak jemu, dan akupun tak pernah bosan memperhatikanmu berbicara. Aku rasa...hanya kau yang bicara, seisi dunia terasa hening.
Semua itu terjadi dua tahun terakhir, saat indah bersamamu.” Duduk” berdua, berbicara dan tertawa.
Yang sebelumnya ku hanya memandang mu di balik kaca jendela kelas saat bel istirahat berbunyi, ku bisa memperhatikan mu berbicara, saat kau berpidato di depan para siswa, ku menatapmu nanar saat kau pergi meninggalkan sekolah. Dan itu semua berlangsung selama lima tahun lamanya....
Cukup bahagia dengan hanya menulis tentang dirimu pada diari di tiap hari-hariku. Membacanya kembali...lalu menilai diriku sendiri dengan sebutan “orang bodoh”.
Tapi kau dengan mudahnya menangkap sinyal aneh dari ku, yang tak mudah ku tutupi. pipiku merona saat kau hanya bertanya saja. muka ku menunduk saat kau melirik wajahku sekilas saja.
Dan akhirnya kau “duduk di sampingku” saat ini.
Aku sangat senang ktika kau ada di sampingku, tapi sekali lagi, aku tak pernah mengungkapkannya padamu. Dan sekarang setelah ada yang mengatakan aku tak setara dengan mu, kau terlalu sempuna untuk ku, aku adalah orang yang mengganggu kehidupanmu. Bahkan ada yang mengatakan aku membuat kamu berdosa....
Semua itu tidak lah salah..... siapa kamu di mata orang lain, dan siapa aku di mata orang lain.
Kau adalah anak tershaleh yang di miliki keluargamu, kau hafal beberapa juz Al-quran, kau sering mengkaji kitab-kitab hadist, begitu juga siroh-siroh rasul, bahasa Arab mu lancar, budi pekertimu indah di lihat, kamu sangat ramah pada semua orang. ahhh...terlalu banyak lagi yang harus ku ungkapkan tentang kamu.
Lalu setelah itu aku bercermin pada diriku sendiri. Aku adalah anak ternakal di keluargaku, aku pemalas...aku terlalu cuek pada orang lain...dan banyak sekali kelemahanku.
maka, biarlah air tetap mengalir, dan api tetap membara dengan kesendiriannya.
Sepenggal di jalanan
19.00
Ku pandangi jendela bis yang melaju cepat. Memberikan warna-warna kehidupan yang beragam, memberikan arti bahagia dan sedih adalah kesatuan hidup yang tak pernah bisa menyatu dari makna sebenarnya. Jalanan sibuk, kapitalisme merajalela. Wajah-wajah amarah, wajah-wajah tak peduli, wajah-wajah lelah menghiasi setiap degup kehidupan ini berlngsung begitu lama.
Kuperhatiakan loncatan-loncatan pedagang asongan naik dan turun bis ekonomi yang berjejal, diiringi petikan gitar dan suara nyaring mendayu-dayu. Segala bebauan ada disini, semuanya bisa kita “nikmati” tidak lain milik bis ekonomi. Para pedagang pulang dari kota berjejal, tempat dagangan mereka yang kosong ataupun yang masih berisi ikut memenuhi ruang-ruang manusia.
Suara-suara yang memekakkan telinga, silih berganti. Sibuk, dan terburu.
“ leunyi, leunyi!” kernet yang satu.
“maja, bu? Maja?” dan kernet yang lainnya.
Aku tak penat melihat dan mengalami semua ini karena sudah terbiasa. Hiburan yang membuat ujung bibirku sedikit melengkung ke atas. Dengan langit memerah jingga, sayup-sayup suara adzan dari beberapa mesjid di jalan terdengar sekilas-sekilas. Hingga cakrawala berganti peran lagi. Mata ku terpejam, menikmati alunan irama mesin bis, dan jalan yang berkelok-kelok. Aku tidak lelah....
Ku pandangi jendela bis yang melaju cepat. Memberikan warna-warna kehidupan yang beragam, memberikan arti bahagia dan sedih adalah kesatuan hidup yang tak pernah bisa menyatu dari makna sebenarnya. Jalanan sibuk, kapitalisme merajalela. Wajah-wajah amarah, wajah-wajah tak peduli, wajah-wajah lelah menghiasi setiap degup kehidupan ini berlngsung begitu lama.
Kuperhatiakan loncatan-loncatan pedagang asongan naik dan turun bis ekonomi yang berjejal, diiringi petikan gitar dan suara nyaring mendayu-dayu. Segala bebauan ada disini, semuanya bisa kita “nikmati” tidak lain milik bis ekonomi. Para pedagang pulang dari kota berjejal, tempat dagangan mereka yang kosong ataupun yang masih berisi ikut memenuhi ruang-ruang manusia.
Suara-suara yang memekakkan telinga, silih berganti. Sibuk, dan terburu.
“ leunyi, leunyi!” kernet yang satu.
“maja, bu? Maja?” dan kernet yang lainnya.
Aku tak penat melihat dan mengalami semua ini karena sudah terbiasa. Hiburan yang membuat ujung bibirku sedikit melengkung ke atas. Dengan langit memerah jingga, sayup-sayup suara adzan dari beberapa mesjid di jalan terdengar sekilas-sekilas. Hingga cakrawala berganti peran lagi. Mata ku terpejam, menikmati alunan irama mesin bis, dan jalan yang berkelok-kelok. Aku tidak lelah....
Rabu, 07 April 2010
mengenang teman
Beberapa hari lalu di suatu malam, ketika ku seharus sibuk dengan buku-buku mata kuliah untuk persiapan ujian tengah semester, tiba-tiba hanphone "si mart"-ku berdering nyaring sebentar, menandakan suatu pesan sudah muncul di layarnya.
kubuka,ternyata nomor baru. isinya seperti ini: "woooii! lg ngapain neh?! ada yang mau ikt g k tasik"
ku balas smsnya, dengan rasa sebal. "maf, sareng sahanya?"tanyaku.
ehhh dia ngebales: "sma temen loe di mts nuurul aimaan..."
weiiisss busyet, temanku di mts bisa berubah sedahsyat ini? tapi aku masih penasaran, siapa gerangan makhluk ini?(hehe emangnya apaann?)
tak kubalas, biar dia ngaku sendiri. ternyata caraku tepat.
dia ngesmsku lagi "tha tau khan dengan yang namanya Rony?"
memoriku melyang jauh...lalu jatuh terharu biru...ya Rony, teman Mts (SMP)ku dulu. yang sudah kulupaka ntanpa sengaja, yang tidak ada di benakku sama sekali...(maaf kan aku...)
Rony (bukan nama sebenarnya), di temanku semasa SMP. kenapa aku sempat melupakannya?karena dia tak bersama kami selama 3 tahun. hanya satu tahun saja yang begitu banyak memori memngungkap kenang tentangnya.
dia murid baru ketika kami menginjak kelas tiga SMP. dengan kacamatanya dan gayanya yang rapi, dia menjadi cukup terkenal di sekolah.
baru masuk saja dia langsung di tunjuk menjadi ketua murid karena tampangnya yang meyakinkan. tapi tidak denganku, rasanya di perlu di ospek dulu sebelum dia sah menjadi teman di kelas kita.
karena kebanyakkan teman-teman ku memilih dia sebagai ketua murid, aku langsung tidak menerimanya, saat itu ada ibu guru yang membimbing kami.
"bu, apakah pantas murid baru langsung di jadikan ketua?sedangkan perilakunya belum kita ketahui?"kataku sinis.
ehhh si ibu malah menjawab, "tidak apa-apa, insyaAllah dia amanah...gitukan Ron?"si ibu ikut percaya denganpenampilan luarnya yang rapi. semua teman setuju. mukaku memerah, agak marah. tapi tetap aku kalah untuk mencalonkan temanku yang lain sebagai ketua.
hari-hari kami lalui dengan sosok Rony sebagai tambahan di kelas. dia dekat dengan kedua teman laki-lakiku yang paling top di kelas, sebut saja helmi dan Ridwan.
aku sedikit kesal dengan anak itu,tampang kalemnya itu lhooo...bikin semua guru terpana. karena saking jarangnya sosok seperti itu ada di sekolah kami. (kecuali salah satu kakak kelasku yang di atasku satu tahun...heheh)
ternyata tampang itu juga yang membuat bapak guru matematika semakin percaya dia. terbukti dengan semua soal yang di berikan si Bapa ia kerjakan dengan mulus, plus angka 100 nangkring di depannya. owowow...aku semakin stress. karena aku paling sensi dengan dia.
karena itulah, teman-temanku semakin lengket dengan dia. karena bisa nyontek PR dari dia (parah).
akhirnya aku mengalah pada keadaanku yang riweh sendiri. cape juga sering sirik padanya. aku mendekatinya, aku ajak ia ngobrol banyak. ternyata subhanallah...banyak sekali ceritanya yang membuatku terharu biru. tentang keluarganya, tentang sekolahnya, tentang teman-temannya di panti asuhan...ya itulah kenyataan...
aku merasa menyesal dengan tingkahku yang berlebihan padanya. ku perbaiki sikapku padanya sebaik mungkin.
ibunya bercerai dengan bapanya. ia terpaksa menuntut ilmu di panti. itulah yang membuat ia sejenius itu.
ketika ia mau menginjak kelas tiga, Bapanya memintanya untuk tinggal di rumahnya untuk membantu-bantu pekerjaannya.
ia tinggalkan semua kenangan di panti, untuk sang ayah semata. tiap hari ia harus bekerja di bengkel kecil bapaknya, dengan gaji 10 ribu perhari, ia tabungkan sejumlah itu ke Ibu guru biologi. harus pulang tepat waktu, tidak ada libur...
ketika kami ada pengayaan untuk ujian, dia tak punya waktu, karena Bapaknya tak mengizinkan. maka dengan itu kami berbondong-bondong menyusulnya.
ku kenang sosok baik itu, dengan keripik singkong bawaannya, untuk di makan bersama-sama. memoriku cepat mengeluarkan kenanganku bersamanya. dimana saat ia memainkan harmonika, dimana saat ia menyukai sahabatku, dimana saat tawanya meledak, dimana saat ia mengalahkan Guru matematika dalam menyelesaikan soal, dimana saat kami rekam suara kami bersama, diman ia berikan buku diarinya padaku untuk ku baca, dimana saat Foto-foto itu aku buka kembali sekarang...wajahnya jelas mengekspresikan bahagia bersama kami. sebentar tapi kenangan tentang dirimu menyesakkan ingatanku...
mungkin seharusnya ia bisa jadi ahli otomotif, atau fisikawan yang yang sekarang sukses. tapi setelah kami keluar SMP, jejaknya tak ku temukan lagi...dan aku sempat lupakan.
dan saat ini dia datang kembali untuk mengenang lima tahun silam yang terlalu indah...masa kami ABG...
mengenangmu jadikan ku ingat pada sosok lintang, sang jenius dari belitong, Aset ilmuan Indonesia yang terabaikan.
kubuka,ternyata nomor baru. isinya seperti ini: "woooii! lg ngapain neh?! ada yang mau ikt g k tasik"
ku balas smsnya, dengan rasa sebal. "maf, sareng sahanya?"tanyaku.
ehhh dia ngebales: "sma temen loe di mts nuurul aimaan..."
weiiisss busyet, temanku di mts bisa berubah sedahsyat ini? tapi aku masih penasaran, siapa gerangan makhluk ini?(hehe emangnya apaann?)
tak kubalas, biar dia ngaku sendiri. ternyata caraku tepat.
dia ngesmsku lagi "tha tau khan dengan yang namanya Rony?"
memoriku melyang jauh...lalu jatuh terharu biru...ya Rony, teman Mts (SMP)ku dulu. yang sudah kulupaka ntanpa sengaja, yang tidak ada di benakku sama sekali...(maaf kan aku...)
Rony (bukan nama sebenarnya), di temanku semasa SMP. kenapa aku sempat melupakannya?karena dia tak bersama kami selama 3 tahun. hanya satu tahun saja yang begitu banyak memori memngungkap kenang tentangnya.
dia murid baru ketika kami menginjak kelas tiga SMP. dengan kacamatanya dan gayanya yang rapi, dia menjadi cukup terkenal di sekolah.
baru masuk saja dia langsung di tunjuk menjadi ketua murid karena tampangnya yang meyakinkan. tapi tidak denganku, rasanya di perlu di ospek dulu sebelum dia sah menjadi teman di kelas kita.
karena kebanyakkan teman-teman ku memilih dia sebagai ketua murid, aku langsung tidak menerimanya, saat itu ada ibu guru yang membimbing kami.
"bu, apakah pantas murid baru langsung di jadikan ketua?sedangkan perilakunya belum kita ketahui?"kataku sinis.
ehhh si ibu malah menjawab, "tidak apa-apa, insyaAllah dia amanah...gitukan Ron?"si ibu ikut percaya denganpenampilan luarnya yang rapi. semua teman setuju. mukaku memerah, agak marah. tapi tetap aku kalah untuk mencalonkan temanku yang lain sebagai ketua.
hari-hari kami lalui dengan sosok Rony sebagai tambahan di kelas. dia dekat dengan kedua teman laki-lakiku yang paling top di kelas, sebut saja helmi dan Ridwan.
aku sedikit kesal dengan anak itu,tampang kalemnya itu lhooo...bikin semua guru terpana. karena saking jarangnya sosok seperti itu ada di sekolah kami. (kecuali salah satu kakak kelasku yang di atasku satu tahun...heheh)
ternyata tampang itu juga yang membuat bapak guru matematika semakin percaya dia. terbukti dengan semua soal yang di berikan si Bapa ia kerjakan dengan mulus, plus angka 100 nangkring di depannya. owowow...aku semakin stress. karena aku paling sensi dengan dia.
karena itulah, teman-temanku semakin lengket dengan dia. karena bisa nyontek PR dari dia (parah).
akhirnya aku mengalah pada keadaanku yang riweh sendiri. cape juga sering sirik padanya. aku mendekatinya, aku ajak ia ngobrol banyak. ternyata subhanallah...banyak sekali ceritanya yang membuatku terharu biru. tentang keluarganya, tentang sekolahnya, tentang teman-temannya di panti asuhan...ya itulah kenyataan...
aku merasa menyesal dengan tingkahku yang berlebihan padanya. ku perbaiki sikapku padanya sebaik mungkin.
ibunya bercerai dengan bapanya. ia terpaksa menuntut ilmu di panti. itulah yang membuat ia sejenius itu.
ketika ia mau menginjak kelas tiga, Bapanya memintanya untuk tinggal di rumahnya untuk membantu-bantu pekerjaannya.
ia tinggalkan semua kenangan di panti, untuk sang ayah semata. tiap hari ia harus bekerja di bengkel kecil bapaknya, dengan gaji 10 ribu perhari, ia tabungkan sejumlah itu ke Ibu guru biologi. harus pulang tepat waktu, tidak ada libur...
ketika kami ada pengayaan untuk ujian, dia tak punya waktu, karena Bapaknya tak mengizinkan. maka dengan itu kami berbondong-bondong menyusulnya.
ku kenang sosok baik itu, dengan keripik singkong bawaannya, untuk di makan bersama-sama. memoriku cepat mengeluarkan kenanganku bersamanya. dimana saat ia memainkan harmonika, dimana saat ia menyukai sahabatku, dimana saat tawanya meledak, dimana saat ia mengalahkan Guru matematika dalam menyelesaikan soal, dimana saat kami rekam suara kami bersama, diman ia berikan buku diarinya padaku untuk ku baca, dimana saat Foto-foto itu aku buka kembali sekarang...wajahnya jelas mengekspresikan bahagia bersama kami. sebentar tapi kenangan tentang dirimu menyesakkan ingatanku...
mungkin seharusnya ia bisa jadi ahli otomotif, atau fisikawan yang yang sekarang sukses. tapi setelah kami keluar SMP, jejaknya tak ku temukan lagi...dan aku sempat lupakan.
dan saat ini dia datang kembali untuk mengenang lima tahun silam yang terlalu indah...masa kami ABG...
mengenangmu jadikan ku ingat pada sosok lintang, sang jenius dari belitong, Aset ilmuan Indonesia yang terabaikan.
Senin, 15 Maret 2010
belajar shalat tepat waktu dari anak TK

sedikit mengingatkan sebuah ayat dari Firman Allah...yang intinya seperti ini: sesungguhnya anak yang baru di lahirkan dalam keadaan Fitrah atau suci.
sabtu siang kemarin (13/03), seperti biasanya keponakanku dari kakak yang ketiga mengisi weekand-nya di rumah kami. namanya Nisa baru masuk TK.
dengan celotehnya yang khas di umurnya yang mencapai 5 tahun, ia banyak bertanya kepada kami tante-tantenya, sedikit bingung memang...tapi aku jawab apa adanya selayaknya teman yang bertanya padaku...
ia bercerita tiada habisnya tentang sekolahnya, tentang belajarnya, bahkan memperagakan senam anak-anak TK tanpa malu-malu. kami akan tertawa dengan tingkahnya yang sangat lucu dan apa adanya.
pada suatu waktu ia bermain dengan ceria bersama adik-adikku ketika aku sedang online, karena banyak pekerjaan adik-adikku meninggalkan gadis kecil itu sendirian yang berkutat dengan pensil pewarnanya menelungkup di lantai.
ketika itu adzan menggema dari mesjid, ia terperanjat, dan langsung berlari menuju aku yang sedang asyik di depan komputer.
"bii (sebutan nisa padaku) ayooo kita shalat...." sambil menarik-narik tanganku...
"bentar" kataku dengan mata yang tak berpaling dari monitor...
"ceeepeeettttt..."katanya tak sabar.
"ya udah, nisa wudhu duluan aja...nanti bii nyusul..."kataku.
"nanti kalo salah ga ada yang benerin dong...." dengan ekspresi yang manyun..
"nisa kan udah bisa, bii tanggung dikit lagi nih..." aku beralasan
"ohhh....gini ya bii, cuci tangan 1 kali, kumur2 3 kali, cuci muka 3 kali, cuci tangan lagi sampe sini ( ia menunjukan sikut), usap rambut, trus bersihin kaki...."
"iya, itu bisa..."
ia berlari menuju kamar mandi untuk wudhu...cukup lama, sdkit bertanya-tanya...ngapain aja tu anak di kamar mandi? tapi akhirnya ia beres juga berwudhu...
"udah bii..."dengan sepuluh jarinya ia masukkan ke mulutnya. basah kuyup.
haduh gawat nih, aku berlari mengambil handuk dan mengganti bajunya...
giliran aku berwudhu...ketika aku beres berwudhu dia sudah merapikan sajadah dan memakai mukenaku yang jelas-jelas kebesaran, ia cukup menggunakan atasannya untuk menutupi tubuh mungilnya. ia tersenyum manis menungguku.
jadilah kami shalat berjamaah, aku memakai mukena adikku.
hmmm, Rabb...betapa khusyunya ia shalat, berdoa dengan sungguh-sungguh, mengangkat tangannya ketika selesai shalat sesuai yang di ajarkan Ummy-nya di rumah.
aku iri padanya, karena ia selalu mendahulukan shalat dari pada aktivitasnya ketika adzan memanggilnya.
aku iri padanya, ketika ia panjatkan doa-doa dengan mata yang terpejam...
bahkan ia melaksanakan shalat sunnat bada dzuhur....ah,,,subhanallah...sucinya anak ini, ponakan ku. smoga selalu jadi anak shaleh, menjadi timbangan kebaikan bagi orangtuanya...aminnn...
Langganan:
Postingan (Atom)