Tampilkan postingan dengan label lingkungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label lingkungan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 11 Desember 2013

perjuangan di "pangkal perjuangan"

Tak terpikirkan sebelumnya bisa sampai disini, di daerah entah berantah, daerah yang belum pernah kuinjakkkan kaki sebelumnya, tak ada teman atau sanak saudara. semua berjalan begitu saja, ku sebut ini sebuah jalan perjuangan di kota "pangkal perjuangan". darahnya hanya beberapa puluh kilometer dari tempat kerja saya yang sebelumnya di bandung, singkat cerita saya di tempatkan di kota pangkal perjuangan karena hanya saya yang bersedia menetap disana. entah keberanian yang datang dari mana, tiba-tiba rasa khawatir hilang tak ada yang menahanku untuk pergi, dia cukup mendukungku, keluarga juga merasa semua keputusan terbaik ada di tangan ku. pada akhirnya aku berjalan di daerah ini, melebur, membaur dan tercebur... aku diterima oleh orang-orang disini dengan baik, sebulan, dua bulan...semua berjalan cukup lancar, hingga aku merasa jenuh, ketika waktu libur, aku terpojok di kontrakanku, jenuh... rasanya tak punya teman. begitu terus. ah ini ternyata bukan sekolah atau bangku kuliah, yang sekelasnya ternyata minimal ada 30 orang, mengenal banyak orang, banyak teman, setelah kita masuk dunia ini, semua tergantung kita, kita menyepi...maka kita dapat sepi, kita terdiam, semua terasa membisu.

Kamis, 22 Agustus 2013

New,New Me

Ada banyak perubahan setelah aku Lulus kuliah...sangat-sangat banyak... setelah aku rasa tercekik dengan kenyataan yang begitu pahit, ternyata dunia nyata begitu ekstrim sekaligus begitu indah. lulus bulan Agustus tahuan 2012 lalu, rasanya baru kemarin, namun sudah setahun yang lalu, akhirnya aku terjun bebas dengan keadaan yang mulai lagi dari nol, teman-temanku menghilang dengan kehidupannya masing-masing, aku tenggelam dengan dunia dan orang baru. Great! inilah alur hidup yang begitu tak bisa di bayangkan. Purphy, ya, dia yang selalu menemaniku menulis di blog sudah diambil keadaan , kamera putihku? hampir sama. masa kejayaan kuliah kini tinggal kenangan.. dan izinkan aku meraup Purphy yang baru, kamera yang baru pula...aammiin, Cemangat Kerja!!! salam penuh perjuangan... Chitta_iwa

Senin, 31 Oktober 2011

SESAL

Sunting
SESAL
oleh Chitta Iwa Hope pada 31 Oktober 2011 jam 14:21

Membungkamku saat Kau rebut ia dari sisiku

Tangan tak sempat mengais mendamba takdir lain

Bila waktu ku bersamanya Kau rentangkan kembali

Tak mungkin menjadi lebih baik. Kau paling berhak atasnya.

Aku minta Engkau Cintai dia

Layak pelukan hangatnya sebelum aku terlelap di saat gulita menakutiku

Bahagiakan ia untukku

Seperti manis senyumnya untukku, semanis gula-gula cintanya.

kasihi ia, karena kasihnya pantas untuk Kau kasihi

Kau Tahu lembutnya tangan syurgawi saat ia menyentuh pipi kecilku penuh air mata.

Aku minta padaMu, dekaplah ketabahannya dalam PelukMu

Karena dia Tidak pernah pergi jauh dari sisi ini, walau berjuta kali aku menyakitinya dengan duri-duri…

Jaga ia dengan penjagaan yang jauh lebih baik lagi, karena sesalku hanya menjadi gerimis sunyi.

Duhai Pemilik nyawa manusia, aku mohon kepadaMu sekali lagi… tempatkan Bunda ku di sisi MU yang tertinggi.

Sungguh, Bagiku dia adalah manusia berhati malaikat yang senantiasa menjagaku ketika aku tak ada daya.

…T_T…

Sabtu, 08 Oktober 2011

Tentang Kasihnya Sepanjang Jalan



Siapakah yang…
Menyelimuti ku ketika aku tak sadar tertidur dengan buku di pangkuan ku.
Menemaniku ketika aku harus bergadang untuk mengerjakan tugas.
Menelpon ku beberapa kali, ketika jam 6 sore aku belum pulang ke rumah.
Menasehatiku ketika aku mau pergi ke mana pun.
Mengajari ku sopan santun.
Selalu ku sakiti hatinya, tapi dia tetap mencintaiku.
Selalu mencemaskan aku ketika aku tidak ada di rumah.
Mendoakan ku di setiap waktunya.
Menyuruhku makan padahal dia sendiri belum makan.
Merawatku ketika aku sakit, walau pun ringan. Padahal dirinya sedang sakit.
Menyusahkannya dari sejak aku kecil.
Mengorbankan nyawanya demi aku.
Untuk :Mama tercinta
Mama bagaimana kabarmu hari ini?
Hari dimana aku anakmu yang ke tujuh beranjak umur delapan belas tahun. Cucumu sekarang sudah ada enam, yah, semestinya lima, tapi dua mujahid kita dari Palestine (wafa & hiba) harus lahir bareng. Kita tak pernah bosan melihat keluguan mereka ya Ma? Bahkan kita selalu bangga melihat mereka tumbuh semakin cerdas.
Mama, kenapa aku selalu manja ketika menyebut namamu. Kenapa tidak? Mama pasti tahu, aku meminta sesuatu yang aku inginkan pasti lari ke Mama. Bahkan di umur yang sudah matang ini aku masih saja menangis merengek-rengek layaknya anak tiga tahun di hadapanmu. Ma, kok aku belum dewasa ya? Jadi malu... apalagi ketika aku bayi, pasti aku sangat merepotkan mu, Ma. Ya iyalah itu mah sudah jelas.
Ma, masih ingat tidak waktu aku kesetrum? Ah... mama pasti tak akan melupakannya, mama masih sering cerita tentang kejadian itu di sela-sela obrolan dengan keluarga. Begitu juga denganku, ini satu-satunya memori yang tak terlupakan di waktu umurku yang sangat kecil.
Waktu itu kita dirumah hanya berdua, kita siap-siap mau berangkat ke sekolah. Mama waktu itu mematikan lampu di dapur, eh... aku malah ikut-ikutan tanpa sepengetahuan Mama, dan akhirnya aku merasakan rasanya kesetrum pertama kali. Aku menjerit, Mama pasti panik waktu itu. Lalu Mama menarikku dengan handuk. Akhirnya aku selamat. Padahal waktu itu jari kelingkingku masuk kelubang listrik. Hi..hi.., betapa culunnya aku yang sok tahu itu ya Ma?!
Kejadian itu merupakan kenangan kita berdua yang tak akan aku lupakan. Mungkin Mama juga.
Mama, hal yang tidak akan aku lupakan lagi adalah, ketika engkau marah. Hal yang sangat aku benci, apalagi kalau Mama sambil memanggilku sitta iwas shoif. Nggak tahu apa maksud mama memanggil nama itu. Mungkin pertama dari Ita, trus jadi sita, maka di tambah iwas shoif. Kemungkinan sekitar itu.
Tahu nggak Mah, waktu sekolah di MI, aku sering mendengar ayat itu, telingaku selalu panas. Seolah-olah Mama yang marah ada di hadapanku. Padahal baru aku sadari ayat itu mengandung arti musim dingin dan musim panas. Sungguh indah bukan? Sekarang aku bangga di sebut itu. Lucu aja...
Itu artinya bagaimana pun kalau Mama marah nggak akan memanggil dengan sejelek-jeleknya nama.
Mama, rasanya banyak sesuatu yang mesti ku kenang. Saat Mama bawa aku ke rapat kepala sekolah MI, Mama nggak malu bawa anak kecil. Padahal tidak ada kepala sekolah yang bawa anak kecuali Mama. Itu juga kenangan yang paling indah. Nggak kebayang repotnya Mama bawa aku yang tertidur di angkot.
Mama selalu bekerja keras untuk kami, tapi tak pernah meninggalkan tugas wajib seorang ibu. Mama, berapakah yang harus kuganti dari semua ini. Sahabat rasul saja yang menggendong ibunya kemana-mana masih jauh untuk membalas jasa seorang ibu. Apalagi aku Ma. Terlalau sering aku menolak yang kau suruh dan melakukan yang engkau larang. Mama, masih bisakah memaafkan aku?.
Mama, waktu dulu kau melarang ku main ke pasar malam, bergaul dengan orang yang suka mejeng di jalan. Aku tak faham waktu itu. Aku kira Mama itu egois. Tapi kini aku melihat mereka menikah dengan perut buncit.
Mama, ketika aku bertengkar dengan adik, sampai kau menangis, aku tak faham waktu itu, aku hanya ingin pembelaanmu waktu itu. Tapi kini aku tahu, aku yang tak mengerti, dan tak mau mengalah. Bahkan akulah yang menyebabkan pertengkaran itu. Mama, maafkan aku... bahkan aku masih melakukan hal itu akhir-akhir ini. Kakak pernah menyinggung namaku yang berarti kunci kasih, tapi ketika aku ada di rumah selalu kacau.
Mama, konflik yang terakhir yang terjadi antara aku dan Mama ialah kemarin anak asrama putri mau menginap di rumah teman yang lumayan jauh, dengan yakin aku menyanggupinya. Tapi ketika aku minta izin, ternyata Mama melarangnya, sungguh kemarin aku tak mengerti. Mama tahu kan, aku mengurung di kamar dan menangis. Ternyata Mama ingin aku sungguh-sungguh belajar untuk menghadapi UN yang beberapa bulan lagi. Selain itu, Mama sangat khawatir terjadi apa-apa kepadaku.
Mama, terima kasih atas segala perhatianmu. Ketika aku pulang terlambat, ketika ada acara di sekolah, pasti Mama sibuk mencari informasi. Itu saking sayangnya padaku. Mungkin juga pada semua anakmu, menantumu, adik-adikmu, semua merasakannya.
Mama, kini penyakit Parkinsonmu yang membelenggu, sehingga duniamu hanya sekat rumah saja. Apalagi bila penyakit itu datang karena timbul dari kenakalan ku. Mama hanya bisa tertidur, tak bisa apa-apa. karena penyakit itu datang dari fikiran yang stress. Aku hanya bisa membayangkan pergi lagi bersamamu.
Masih teringat pada awal aku masuk pesantren. Engkau menitikan air mata. Sungguh Ma, aku merasa yang paling di sayangi dan yang paling berarti bagimu. Hingga di asrama yang paling ku rindu adalah mama.
Ma, selama ini, yang meluruskan jalanku adalah engkau dan Abah. Kalianlah penyangga tubuhku. Tanpa kalian aku tak berarti.
Ma, cepat sembuh ya, peluk ku dari anakmu yang ke tujuh, dari sepuluh bersaudara.

Sabtu, 06 Maret 2010


sungguh hari-hari terakhir yang penuh dengan bunga-bunga bertebaran... ^_^

sebenarnya bukan itu yang akan aku ceritakan saat ini, tetapi tentang jalanan lagi sahabat.... jalanan dengan ke hiruk pikukannya, jalanan yang menemaniku menuju kampus setiap hari.
sudah beberapa minggu aku mempunyai pengalaman di jalanan, tapi belum ku tuliskan.

seperti biasanya aku menggunakan angkot 05 jurusan Tanjungsari-Cicalengka, turun di terminal Bis Damri, sampai bunderan Cibiru. harus nyebrang beberapa kali untuk menuju kampus, dan perjalan lumayan cukup panjang menuju kelas yang bertempat atas sana (gedung Z-A)

aku akan lewati tukang koran yang berjualan gorengan juga. dari jauh dia sudah tersenyum lebar ketika sosokku mulai tertangkap matanya. ia mengambil koran yang telah di simpan berjajar rapi di lopernya. koran TEMPO seperti biasanya, ia sungguh sudah hapal. aku mengambilnya, dan membaca judul headlinenya yang bombastis, menggelitikku untuk membaca lebih lanjut, tapi aku tahan sejenak. ku keluarkan uang sesuai dengan angka yang di cap dan di bawah angka tersebut bertuliskan "khusus harga mahasiswa".

"ini pak."kataku, ketika ku berikan uang sebagian untuk makan siangku.
"nuhun nenk."
"mangga pak, assalamualaikum." ia menjawab salamku.
sambil berjalan menunduk, ku baca lagi halaman pertama koran TEMPO yang sudah jadi miliku itu, tiba-tiba seorang ibu mendekatiku. (aku menyadari sosoknya mendekat)

"nenk maaf, kalo Indramayu masih jauh ya?"
wow...si ibu nannya ga kirem-kirem (haha, translate plis),
"iya bu."jawabku cuek, wajah si ibu berubah jadi wajah bingung.
"harus ke ci caheum ya nenk?"
"ga usah bu, nanti juga lewat sini."
"aduuhhh,nenk, uang ibu cuma 5000 rupiah lagi. gimana ya?"

tuing...tuing... aku kasian sekali liat Ibu yang tadi,. tapi uang ku tinggal untuk makan siang (aku tak biasa sarapan), juga untuk ongkosku pulang nanti. bukannya aku pelit, tapi memang keadaannya seperti itu.

tiba-tiba saja aku langsung ingat dengan Radio El-shinta, sering sekali menyiarkan orang yang kehilangan, tersesat atau juga kecopetan dan menghubungi Radio tersebut. tapi tentunya aku tidak menelpon Radio itu. aku langsung punya ide.

"bu, ke kantor polisi aja....saya antar." kataku girang, karena ide yang cemerlang melintas tepat waktu.
tapi wajah si ibu berubah lagi, seperti serba salah.
"ayo bu..."kataku lagi.
"ga usah nenk..."katanya, membuat aku terheran...
"dekat ko bu..."ku yakinkan..,
"gak apa-apa..., makasih nenk..."ia menjauh pergi.

aku jadi bingung dua kali lipat, adakah yang salah denganku? tanyaku dalam hati.
aku hanya bisa berdoa untuk ibu yang tadi, smoga di selamatkan sampai tempat yang di tuju, dan yang terpenting di mudahkan....

Senin, 15 Februari 2010

sepotong kisah dari buku biografi ku ^^

AKU DAN PROSES PENDEWASAAN

Cerita saat tingkat SMA

Air mataku berlinang, air mata mama juga. Emak (nenek) mengusap kepala ku, pesan-pesannya mengalir untuk menjadi bekal nanti.

Aku dan bapa menenteng tas besar yang berisi semua keperluanku. Dengan air mata yang masih berlinang aku melihat mama menyembunyikan tangisnya. Menambah kesedihanku.

Aku kini akan tinggal di Asrama. Terpisah dari keluarga. Sungguh berat bagiku yang tidak betahan. Yang paling aku sedihkan, aku hanya di antar oleh bapa. Sedangkan teman yang lain diantar oleh satu angkot.

Setelah datang ke sekolah baruku, hanya ada beberapa orang yang tinggal di asrama, sepi sekali. Akhirnya Bapa pulang meninggalku sendiri di tempat asing itu. Membuat aku selalu ingin menangis, apalagi teman yang lain yang selalu menangis.

Kamar ku luas, terdapat dua tempat tidur tingkat. Jadi, satu kamar untuk empat orang. Waktu pertama kali masuk asrama aku satu kamar dengan Fatimah, Nurlaela, Khairunnisa.

Nurlaela yang tempat tinggal nya paling jauh sering sekali menangis. Membuat kami latah ingin menangis juga.

Kami melewati malam pertama di Asrama, dengan mata yang sulit terpejam, begitu pun dengan aku. Aku teringat suasana di rumah, merasakan suasana asrama yang terasa asing sekali.

Pada hari pertama kami harus berangkat ke sekolah dari asrama yang jaraknya satu komplek, kami pikir kami tidak akan kesiangan, tapi ternyata kami kesiangan. Awal yang menyebalkan.

Seperti biasa dalam 1 minggu awal kami terlebih dahulu menjalani Masa Ta’aruf Santri atau biasa di sebut MOS. Dan kami mencari barang-barang keperluan kami tanpa bantuan siapa pun, kami mencarinya sendiri di daerah yang sangat asing menurut kami.

Setelah kami melewati masa ta’aruf santri, kami pun mengikuti program RG dan UG. Mulai dari Muhadoroh atau belajar menjadi khotib, ada juga Bina Santri dan sebagainya.

Kelebihan lain yang saya dapatkan dari tinggal di Asrama ialah aku bisa mandiri disini. Aku memikirkan menu makanan sendiri, tidak terlalu banyak merepotkan orangtua, seperti anak kosan.

Di sini aku mengikuti Ekstrakulikuler pencak silat dan keputrian. Karakter yang Sangat bertentangan, tapi itulah aku. Aku menginginkan aku adalah wanita yang kuat yang bisa menjaga diriku sendiri dibalik keanggunan jilbabku (anggun gitu?).



Suatu hari diadakan Porseni di tingkat MA se-Sumedang. Banyak perlombaan di adakan di sana kecuali pencak silat. Semua perlombaan di ikuti sekolah ku, tapi aku tidak mengikuti satu pun. Karena aku tidak pintar berpidato, ataupun olah raga yang lain.

Pulang dari sana teman-temanku membawa pulang banyak piala. Diantaranya dua sahabatku yang jago dalam Voly ball. Melihat semua itu aku merasa rendah dari siapa pun. Aku akui bahwa aku tidak bisa apa-apa.

Beberapa bulan dari sana, tepatnya bulan desember ketika peringatan hari ibu, ada perlombaan bertemakan “Surat Cinta Untuk Bunda”. Aku dan beberapa teman ku mengikutinya. Jujur, yang aku mengikutinya hanya asal-asalan atau hanya ingin ikutan saja. Tapi yang kutulis adalah kenyataan tidak ada yang di karang. Semunya asli kenangan aku dan mama.

Hasilnya di umumkan di suatu tempat yang aku tak tahu dimana, tapi adik kelasku mengikutinya. Ternyata aku menang menjadi Juara II.

Pada saat pembagian Rapot, kemenangan ku di Umumkan di sekolah oleh wali kelasku, yang tidak di dapatkan oleh teman-teman atlet Porseni (maaf aku sedikit sombong). Tapi kekecewaanku adalah pialaku tidak bisa di bawa ke rumah. Padahal perlombaan itu bukan utusan sekolah, tapi aku mengikutinya kehendak sendiri. Aku hanya membawa amplop dan sertifikatnya saja. Ternyata salah satu piala tertinggi di kantor kepala sekolah, yang nangkring di lemari kaca adalah piala ku. Walaupun kecewa tidak bisa membawa pialaku, tapi aku bangga melihatnya berjajar dengan piala-piala yang lain….

Dari sanalah aku termotifasi menjadi seorang penulis kubulatkan kembali. Bahkan nanti ketika aku memilih jurusan jurnalistik pun karena dari sana.



Kalau di asrama, rasa persaudaraan itu terasa sekali. Ketika salahsatu dari kami makan, maka kami semua akan makan. Otomatis ketika tidak ada makanan kami semua akan kelaparan.

Menu yang paling sering kami sajikan adalah Mie. Mau di kuah, di kuah pake telur, di goreng kering, di goreng seperti bala-bala, di kuah dengan kerupuk, di campur dengan sayuran dan sebagainya. Tapi tetap saja Mie, yang rasanya begitu-begitu saja. Tapi kami tidak bosan-bosan menyajikannya.

Pagi-pagi buta sekitar jam limaan setelah shalat shubuh dan baca Al-qur’an. Sesuai dengan jadwal piket, dua orang dari kami bergiliran membeli gorengan Bu Ani yang murah meriah. Tapi sebelum pergi harus masak nasi terlebih dahulu. Maka jam enam pagi kami sudah beres sarapan pagi, dan mulai mengantri untuk mandi.

Di Asrama semua PR pasti akan di kerjakan. Karena kami akan mengerjakan nya bersama-sama, dan kami akan saling mengingatkan. Walaupun menghabiskan banyak cemilan-cemilan. Bahkan mengeluarkan waktu yang banyak, karena canda selalu ada di sela-selanya.

Ketika pulang sekolah kami akan mencari makan siang. Setelah itu, kami akan melakukan aktifitas masing-masing. Ada yang tertidur, nyuci dan sebagainya. Tapi ketika kami akan tidur, kami akan gila-gilaan. Seperti melempar-lempar bantal, foto-fotoan, nyanyi-nanyian, menata rambut segokil mungkin, hantu-hantuan dan banyak lagi. Hal inilah yang sulit aku lupakan dan tinggalkan dari suasana Asrama. Apalagi ketika kami kelas 3, persahabatan akan terasa erat sekali ketika beberapa bulan lagi kami harus berpisah.



Identik dengan citra pesantren, seharusnya kami bisa menguasai bahasa Arab dengan fasih. Tapi yang saya rasakan pengauasaan bahasa Arab di sini malah mengurangi hasil belajar ku dengan Ust. Maman. Darussalam mengejar target ilmu Umum yang lebih baik untuk bersaing dengan MAN-MAN yang ada di Sumedang. Sehingga yang kurasakan tidak mencapai kedua-duanya. Kami belajar kitab Bulughul Maram, tetapi kami juga mempelajari kimia. Apalagi ketika kami kelas 3, nilai kami di batasi dalam enam pelajaran umum. Sehingga guru-guru menghilangkan beberapa pelajaran pesantren, menggantinya dengan pelajaran umum tadi.



Ketika suasana pantai waktu itu mendung, memberikan Susana kesedihan di dalam hati-hati kami. Tapi kami tertawa waktu itu, bercanda menikmati gelombang air laut yang biru. Semua ekspresi dari kami adalah kecerian. Tak ada yang menangis satu pun. Tapi kami tahu ini adalah sebuah akhir, akhir dari kebersamaan kami. Kesedihan kami terbungkus rapat-rapat, dan di sembunyikan dalam-dalam. Semua itu karena kami tidak ingin itu terjadi.

Waktu kami di pangandaran pun berakhir. Kami harus menerima perpisahan ini.

Di batu hiu, kami melakukan perpisahan.

Ustad Epul berkata “inilah ekspresi kalian, tidak ada nyanyian perpisahan, yang ada adalah ekspresi yang tidak di buat-buat.”

Pidato Ibu kepala sekolah yang membuat kami terharu biru. Membuat aku selalu ingin memaluk sahabat-sahabat ku, dan tak ingin melepaskanya.

Tak terasa semuanya berlalu begitu saja. 3 tahun yang amat singkat sekali. Kenangan-kenangan selama ini terbuka kembali. Membuat air mata terus mengalir.

Satu persatu temanku di jemput pulang oleh keluarganya, bahkan ada teman ku yang pulang entah kemana. Akupun membereskan barang-barang yang masih ku perlukan untuk di bawa ke rumah. Sakit sekali melihat tempat tidur yang kosong tidak berseprai warna-warni lagi yang seperti biasanya, tidak ada boneka, tidak ada buku yang tergeletak di atasnya, tidak ada lagi buku yang berjajar rapi diatas lemari, tidak ada lagi baju yang menggantung di jemuran, dan tidak ada lagi jadwal-jadwal harian. Semuanya kosong, menunggu orang-orang baru menempatinya. Apakah ruangan ini merasa sedih juga? Jerit, tawa, tangis pernah ada di sini… dan dengan seketika semua pergi, yang ada hanyalah sunyi, dan sepotong episode yang selalu ku kenang.

Sebuah kisah masa lalu hadir di benak ku

Saat ku lihat

Menyibak lembaran masa yang indah

bersama sahabat ku

Sepotong episode masa lalu aku,

Episode sejarah yang membuat ku ini

Merasakan bahagia dalam dien -Mu

Merubah harapan yang ada di hidupku

Setiap sudut ku menyibak kisah

Kadang ku rindu ceritanya,

Bersama mencari cahaya -Mu

Sabtu, 13 Februari 2010

berbagi cerita (kisah tha semester 1)


Aku dan jalanan









Setiap orang memiliki kegiatan yang berbeda di setiap paginya. Termasuk aku seorang pemalas. Alarm mencoba membangunkan jam setengan tiga, dan aku hanya mematikannya, baru pada waktu adzan shubuh aku bangun dengan rasa penyesalan yang sangat dalam. Tergesa aku berwudhu dan shalat, setelah itu memilih baju dan menyetrika dengan tergesa. Waktu menunjukan setengah lima, aku harus mengepel ruangan tamu dan ruangan tengah dengan waktu setengah jam. Setengah jam lagi untuk mempersiapkan diri pergi ke kampus. Baru setelah setengah enam aku harus pergi dari rumah. Tak sempat sarapan….
Setiap hari kegiatan itu aku lakukan, setiap hari aku mencoba untuk bangun lebih awal untuk shaum atau qiamullail, dan setiap hari pula aku menyesali bangun pas adzan shubuh dan seterusnya.
Waktu itu hari senin, seperti biasa aku berangkat dari rumah jam setengah enam pagi. Dengan tas ransel berisi beberapa buku yang berat aku berjalan sekitar 20 meteran tepat di depan MI Menunggu angkot jurusan Cicalengka-Tanjungsari yang menghabiskan beberapa menit waktu ku, turun di pasar tanjungsari dengan ongkos Rp. 3000,-, dan naik bus kota yang yang murah meriah, sesuai dengan fasilitasnya.
Aku duduk di jok buatan di pinggir pintu depan dekat jendela. Kebiasaan yang sangat aku sukai bila perjalanan duduk dekat jendela, lebih suka kalau seandainya yang ku tumpangi adalah bus PATAS AC yang nyaman, empuk kursinya, pandangan selalu keluar kaca, melihat kondisi jalanan dengan kesibukannya. Tapi kembalilah ke alam nyata di mana ada jok sempit, tidak empuk, kaki yang keinjak-injak, panas, bau dan sebagainya. Bus kota yang ku sebut damri ini berjalan sangat lamban, mungkin karena isi di dalam nya yang berjubel, mungkin juga karena mesinnya yang sudah tua. Aku kira dua-duanya benar, tak ada yang salah, dan sesuai dengan fakta. Bus sangat lamban…lamban, dan akhirnya berhenti juga. Baru ku sadari, hari senin adalah hari yang menyebalkan. Kali ini bus berhenti bukan karena tuanya mesin bus, tapi macet total. Kulihat banyak motor mencoba menerobos, bahkan memenuhi jalur kanan. Mereka terus mencoba bergerak. Yang ku perhatikan adalah berjuta-juta helm bergerak yang terlihat dari jendela bus, membuat aku pusing melihatnya.
Tak terasa sedah 1jam bus tidak bergeming sedikit pun, waktu sudah menunjukan jam 7.10. cahaya matahari yang menebus jendela menerpa kepala ku yang di balut kerudung hitam. Rambutku basah dengan keringat, pipiku panas. Baru kali ini aku bingung, seandainya aku turun dan jalan kaki, tapi kampus masih jauh. Mau naik angkot… jangan gila, angkot sama macet juga. Beratus-ratus helm mengelilingi bus damri yang ku tumpangi, semakin kesalnya aku memperhatikan mereka bergerak.
Bus damri yang ku tumpangi catnya hamper mengelupas itu mengeluarkan sayap, membentangkannya dan mengepakkannya ke atas. Bus naik 10 meteran, keluar dari kemacetan, lalu dengan bebas terbang kearah bandung, aku tertawa senang dan takjub melihat pemandangan di balik jendela, terlihat jalan yang berkelak-kelok di penuhi dengan kendaraan bermotor yang tak bergerak kena macet. Akhirnya bus ajaib berhenti di depan UIN aku turun dari bus yang sempat aku hina itu.
Imajinasi itu meletus seperti balon dari sabun yang transparan, terbang hanya sebentar saja. Bus yang ku tumpangi masih di kelilingi lautan helm. Sampai jam delapan baru lah jalanan lancar. Setengah sembilan kurang aku ada di depan kelas. Dosen sudah ada, tapi aku berani masuk hanya setengah jam. Aku tersenyum kepada teman-temanku dengan hati yang pedih, terasa sekali keringat mengucur di kepala ku. Setengah enam aku berangkat dan sampai kampus setengah sembilan, sungguh sangat menyedihkan.

Hari senin, minggu berikutnya setelah kejadian keterlambatanku masuk kelas. Jam 5 aku sudah mandi dan keramas, bajuku sudah rapih. Dalam waktu yang singkat aku menyelesaikan sarapan, jam 05.15 aku berangkat. memang terlalu dini, tapi bagaimana lagi…
Tenyata bila kita berangkat lebih pagi belum terjadi macet, jalanan lancar. Aku datang ke kampus jam 06.30 an. Ternyata kelas jurnalistik C kosong melopong. Aku tidak tahu kalau dosen akan datang jam ke-2. gudubrak…!

hari senin minggu berikutnya…
aku lebih tenang kali ini, tepatnya aku lupa lagi kalau waktu itu hari senin. Aku menyelesaikan tugasku sampai jam 5, dan berangkat jam setengah enam seperti hari-hari yang lain.
Aku baru ingat setelah jalanan macet, hati ku berdebar-debar tak karuan, masa aku harus kesiangan terus di mata kuliah ini? Aku pasrah tapi tak tenang (apakah itu bisa di sebut pasrah?), hatiku terus berdoa Kepada Allah, yang mengatur semuanya.
Sudah lama aku komat-kamit berdoa, aku menjadi teringat kepada perkataan seorang dosen. Beliau bercerita tentang mahasiswa yang kesiangan, sebelum ia masuk kelas dia berprasangka yang buruk kepada dosennya. bahwa dosennya galak, akan memarahi dan seterusnya. Dan kenyataanya akan sama dengan prasangkanya atau ia akan ketakutan terlebih dahulu.
Dari sana hatiku mencoba tenang, kalem. Langsung saja terlintas bahwa dosen mata kuliah ini tidak akan datang. Walaupun sedikit aku tidak percaya atas pikiran ku, karena dosen ini tak pernah absent dan selalu tepat waktu. Tapi bisa saja ini terjadi.
Setelah aku sampai kampus, ada sms dari temanku, yang isinya,
Ukhty.., anti msih d mn?
Kalem y, jngn rusuh,nnti terpeleset.
Dsennya jg lom ada!
Wah, sepertinya si bapak kena macet juga y…, piker ku. Aku mempercepat jalanku. Setelah datang ke kelas banyak anak-anak yang di luar sebagian lagi di dalam kelas. aku duduk di kursi, mengatur pernafasanku.
“tha, baru dating ya?”sambil nyengir kosma nanya pada ku,
aku mengangguk membalas jawabannya, masih mengatur nafas.
Si kosma maju ke depan kelas.
“pengumuman! Si bapak nggak akan datang, diganti besok jam ke-3 di gabung dengan kelas B.” sambil nyengir lebar kearah ku. Aku hanya melongo, tak percaya dengan apa yang terjadi. Hari ini hanya satu mata kuliah, dan dosennya absent. Kalo tahu begini aku nggak akan capek-capek datang ke kampus, menghamburkan uang untuk ongkos.

Kenapa aku suka sekali berkendaraan? Entahlah, aku sangat menikmati pemandangan di balik jendela yang bergerak hilir mudik. Dari sana imajinasiku terus berputar.
Selain itu, aku suka dengan lagu-lagu musisi jalan, apalagi lagu sunda, saking seringnya, aku hampir hapal lagu yang sering di nyanyikan musisi jalan tersebut, contohnya seperti ini,
Kota leutik camperenik
Najan letik tapi resik
Ngalewat cadas pangeran
Duh kota sumedang…
Di papay ku cipeles
Tampomas nu matak waas..
Lagu ini mengingatkan aku ketika aku masih SMA dulu di Sumedang. Aku naik angkot, melewati jalan cadaspangeran yang berkelak-kelok, dengan pemandangan alam yang begitu menakjubkan. Di sisi jalan pohon pinus berjajar, memayungi jalan dari sengatan matahari. Sawah terasering bagaikan tangga yang di balut karpet hijau.
Dan aku ingat ketika aku di Asrama, gunung Tampomas mencuat tinggi di hadapan gedung Asrama, yang sesekali di hiasi pelangi. Keindahan gunung itu jelas sekali, hutannya masih lebat, dan tinggi sekali.
Tapi sayang juga, aku teringat sungai Cipeles yang membelah kota sumedang, memisahkan jalan Geusan Ulun dan jalan Mayor Abdurachman airnya kotor, tapi masih berwarna coklat. Di sisinya banyak sampah bertebaran, walaupun terdapat plang yang mengingatkan jangan buang sampah sembarangan.
Itu baru satu lagu. Tapi seandainya, saya melihat hal-hal yang menurut saya menarik, maka saya akan berfantasi untuk membuat cerita dari apa yang saya lihat tersebut. Saya akan membayangkan alur perjalanan cerita itu sedetail mungkin.
Tapi ketika aku kecapean, pulang sekolah ataupun kuliah. Maka yang paling enak itu tidur di kendaraan. Tidur yang efektif, sebentar tapi melepas lelah, juga memanfaatkan waktu. He…

Rabu, 23 Desember 2009

sedikit tentang akuku

Bagi ku, aku adalah inspirasi di setiap fikiranku. Berbeda dengan pidi baiq, seorang penulis lulusan ITB itu berkata Istri dan anaknyalah yang selalu jadi inspirasinya. Kanapa seperti itu, mungkin dia sangat menyayangi Istri dan anaknya, sehingga yang dia ingat adalah mereka yang selalu di sisi nya.
Maka berbeda dengan diriku, aku sama sekali tidak peduli siapa orang yang terdekat dengan ku. Lika-liku kehidupanku sudah menyita perhatian hidupku.
Maka hujan dan badai, adalah hiburan yang terindah. Mengaburkan tangis....
Gelap malam menjadi teman baik. Tempat menyembunyikan kepedihan.....
Pagiku adalah keceriaan, keceriaanku terkalahkan oleh mentari terbit....
Siangku adalah kebahagiaan, terseret hirul-pikuk kehidupan lain.....
Aku berjalan tak ada beban, karena orang-orang berkata mereka telah menanggung bebanku. Aku tak jadi diriku lagi, karena aku telah membenci semua!
Kenapa aku tidak bisa menuangkan kata-kata yang ingin aku katakan? Ini sungguh sangat aneh....
Mungkinkah aku terlalu sedih?atau aku hanya memikirkan sendiri?
Ya, hari ini sungguh mendung, semendung fikiranku yang buntu!
Sebodoh inikah diriku ini?
Apa yang dapat aku harapkan pada diriku sendiri?
Hanya kecengengan semata?
Aku benci semuanya yang menjadi banci!!
Termasuk aku yang tak mampu berkata-kata!!!
Aku lemah! kalian menang! Aku selalu kalah!!
Maka sekali lagi, aku adalah inspirasiku sendiri. Karena hidupku, untuk ku saja... tak ada yang lain!
Aku tak di cintai, dan aku tak mencintai siapapun!
Kalian sendiri, aku sendiri! tapi kenapa aku tidak bisa sendiri tanpa kalian?
Aku adalah inspirasi bagi ku! karena aku mengira, hidupku lebih perih dari semua orang yang ada!!!
Aku inspirasi bagiku sendiri, karena aku adalah tokoh antagonis dalam kehidupanku sendiri!
Aku adalah inspirasi bagiku sendiri, karena aku tak bisa lagi mendengar teriakan orang-orang di sekitarku!
Aku adalah inspirasi bagiku, karena aku telah menelan akuku!